Jakarta -PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) akan membangun pabrik rakitan telepon seluler (ponsel) pertamanya di Jakarta mulai tahun ini.

Direktur Utama MKNT Jefri Junaedi mengatakan, perseroan menyiapkan investasi sedikitnya Rp 10 miliar.

“Rencana bangun pabrik di pinggiran Jakarta. Sedang dijajaki tahun ini. Tahun depan bisa selesai, sekitar Rp 10 miliar,” ujar dia saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (26/10/2015).

Ia menjelaskan, saat ini pihaknya tengah mengincar lahan sekitar 3.000 meter persegi tanah di pinggiran Jakarta.

Setelah pabrik baru tersebut selesai, pemegang merek smartphone dan tablet Cyrus ini, menargetkan bisa menghasilkan kapasitas produksi hingga 60.000 unit per bulan.

“Selama ini kan 100% impor dari China. Nantinya paling tidak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bisa 30%, itu bertahap. Ini pabrik baru baru, luasnya 3.000 meter persegi, kapasitas produksi 60.000 per bulan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur MKNT Roby Tan menambahkan, selain membangun pabrik rakitan, perseroan juga akan membuka 15 outlet di tahun depan. Untuk satu outlet, besaran investasinya mencapai sekitar Rp 200 juta.

Biaya pembukaan 15 outlet tersebut diambil dari hasil dana Initial Public Offering (IPO). “Dana IPO kan 70% untuk modal kerja. Di antaranya untuk nambah 15 outlet tahun depan,” katanya.

Saat ini, Roby menyebutkan, perseroan telah memiliki pusat layanan purna jual yang disebut Cyrus Care Center yang ada di 10 kota besar di Indonesia. Sementara itu, untuk ritel outlet memiliki 10 Cyrus Store yang menjual semua produk Cyrus di 9 kota besar di Indonesia.

“Kita akan tambah 15 outlet di Sumatera dan Jawa. Kita akan buka di Lampung, Pekanbaru,” kata Roby.

Selama ini, penjualan perseroan didominasi oleh penjualan pulsa telepon isi ulang, seiring dengan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas telekomunikasi dan semakin banyaknya pengguna internet.

Selama 2014, penjualan tercatat Rp 637,84 miliar, tahun 2013 Rp 485,56 miliar, tahun 2012 Rp 323,790 miliar. Periode 30 April 2015, penjualan pulsa isi ulang mencapai Rp 195 miliar atau 30% dari angka penjualan voucher sepanjang tahun 2014.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengeluarkan ketentuan wajib investasi atau perakitan ponsel di Februari 2016. Selain itu, perusahaan perakit, akan diwajibkan pakai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebanyak-banyaknya. Mulai 2017, bila TKDN ponsel tak mencapai 30%, maka izin edarnya akan dicabut, alias produk tersebut tak bisa beredar di pasar dalam negeri.

Beberapa peraturan menteri mulai dari Perindustrian, Perdagangan hingga Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memperjuangkan hal ini. Salah satunya adalah dengan mewajibkan produsen ponsel di dalam negeri menggunakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) hingga 30%.

“Tiga menteri sepakat untuk TKDN bagi ponsel 4G LTE. Dalam 3 tahun‎ itu harus 30%,” kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Ignasius Warsito beberapa waktu lalu.

sumber : detik.com