Jakarta -Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat ada 21 calon investor yang berminat membangun pabrik gula baru di Indonesia. Sayangnya rencana para calon penanam modal untuk membangun pabrik gula baru ini masih terganjal masalah kepastian lahan.

Mereka kesulitan mendapatkan lahan untuk pabrik dan kebun tebu. Lahan berstatus Area Penggunaan Lain (APL) yang dapat digunakan untuk pabrik gula dan kebun tebu umumnya adalah tanah ulayat. Untuk pembebasan tanah ulayat ini butuh pendekatan khusus yang tidak mudah.

“Sebetulnya lahan tersedia, cuma persoalannya lahan yang berstatus APL adalah tanah ulayat, misalnya di Indonesia Timur. Untuk mengubah tanah ulayat itu menjadu HGU (Hak Guna Usaha), perlu pendekatan kepada tetua-tetua masyarakat, pendekatannya harus bottom up,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro, kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (9/9/2015).

Selain itu, dia melanjutkan, banyak juga lahan-lahan ‘nganggur’ yang sebenarnya cocok untuk pabrik gula dan perkebunan tebu, tapi sudah ada pemilik HGU-nya.

“Kemudian banyak juga lahan-lahan yang terlantar tapi sudah ada HGU-nya, terutama di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Ada pemiliknya,” katanya.

HGU lahan-lahan yang tidak digunakan oleh pemilik izinnya ini, kata Syukur, bakal dicabut jika sudah 4-5 tahun terlantar alias tak dimanfaatkan. Pihaknya akan segera membicarakan masalah ini dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) agar HGU lahan-lahan tersebut dapat dicabut dan diberikan saja HGU baru untuk pabrik gula dan kebun tebu.

“Dalam waktu dekat ini kami akan membicarakan dengan Deputi BPN. Ada ketentuannya, kalau 4-5 tahun tidak dilakukan penggunaan itu bisa diambil dan diberikan kepada yang berminat,” katanya. Syukur mencatat peminat investasi pabrik gula tak hanya datang dari dalam negeri, ada juga investor asing, misalnya dari investor dari India yang ingin membangun pabrik gula di Nangroe Aceh Darussalam.

“Sebagian besar (calon investor pabrik gula) dari Indonesia, ada juga yang dari luar, misalnya dari India. Yang dari India sudah datang ke saya, mereka tertarik investasi di Aceh,” ujarnya.

Syukur mengaku telah mengundang satu per satu para calon investor untuk menindaklanjuti keinginan mereka membangun pabrik gula. “Kami sudah mengumpulkan mereka satu per satu, mereka sedang memberikan informasi kepada kami berapa jumlah lahan yang dibutuhkan, daerah mana yang menjadi minat mereka. Kami akan fokus ke daerah-daerah yang menjadi minat mereka,” katanya.

Rata-rata calon investor ingin membangun pabrik gula yang terintegrasi, dapat memproduksi mulai dari gula mentah, gula rafinasi, sampai gula kristal putih, lengkap dengan perkebunan tebu di sekitar pabrik untuk sumber bahan baku. Kapasitas giling pabrik yang akan dibangun umumnya 10.000 tcd (ton cane per day/ton tebu per hari) atau 10.000 ton tebu per hari.

Untuk pabrik saja, para calon investor ini membutuhkan lahan seluas 20-30 hektar. Sedangkan untuk perkebunan tebu dibutuhkan puluhan ribu hektar untuk setiap pabrik.

“Rata-rata yang mereka butuhkan adalah 20-30 ha, pabriknya sekitar 10.000 tcd,” kata Syukur.

 

Sumber: Detik.com