Jakarta -Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, menyatakan bahwa jadwal operasi Blok Masela tak boleh molor lagi dari jadwal. Berdasarkan Plan of Development (PoD) atau rencana pengembangan yang dibuat oleh Inpex selaku operator Blok Masela, produksi gas dari blok ini akan mulai mengalir (onstream) pada 2024.

Bahkan, kalau bisa operasi Blok Masela dipercepat. Sebab, di sekitar Blok Masela ada banyak blok-blok gas besar milik Australia. Ada Lapangan Gorgon, Itchis, dan Prelude di Australia Utara yang akan memulai produksi dalam waktu dekat.

“Mereka sebentar lagi onstream, kalau produksi Blok Masela tertunda, nanti marketnya kalah dari blok-blok di Australia,” kata Amien dalam konferensi pers di City Plaza, Jakarta, Selasa (21/9/2015).

Jika Blok Masela terlambat berproduksi, pasar gas di wilayah Asia Pasifik akan dikuasai oleh blok-blok milik Australia tersebut. “Proyek-proyek di Australia kami lihat sebagai kompetitor. Kalau kita telat market-nya sudah dikuasai mereka,” ungkap Amien.

Sebagai informasi, Blok Masela adalah yang terletak di Laut Arafura memiliki potensi sangat besar. Berdasarkan data Lemigas tahun 2015, cadangan terbukti Blok Masela mencapai 10,73 trillion cubic feet (tcf).

Pada 2024, aliran gas dari Blok Masela diperkirakan mencapai 1.200 mmscfd dan kondensat 24.460 bpd. 70% produksi gas dari blok ini rencananya akan diekspor, terutama ke Jepang. Sisanya 30% akan dialokasikan untuk domestik.

Proyek Blok Masela yang digarap Inpex sudah digarap sejak 1998, namun proyek ini banyak tertunda hingga diperkirakan baru bisa produksi pada 2023 atau 2024.

sumber : detik.com