Equity World Futures – PT Alam Tri Abadi yang merupakan anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO) resmi mengambil alih 100% kepemilikan di perusahaan pertambangan multinasional BHP Billiton melalui IndoMet Coal.

Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir atau yang kerap disapa Boy Thohir sempat menceritakan bagaimana perjuangan dirinya hingga mampu mencaplok saham IndoMet Coal yang tadinya 25% di 2010 hingga kini 100% dimiliki oleh Adaro.

Pada awalnya IndoMet Coal mencari rekanan bisnis di tahun 2010 untuk mengembangkan potensi batubara di Indonesia. Singkat cerita di tahun yang sama Adaro juga membeli 25% saham perusahaan besutan BHP Billiton dengan kisaran US$ 350 juta sampai US$ 500 juta.

“Akhirnya mereka memilih kita di 2010, tapi saat itu mereka bilang 25% saja akhirnya Adaro masuk beli. Waktu itu lagi tinggi-tingginya 25% IndoMet Coal US$ 350 juta sampai US$ 500 juta. Karena kita berpikir ini prospeknya bagus sekali,” jelas Boy saat berbincang bersama media di Plataran Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (9/6/2016).

Namun tak lama kemudian kondisi bisnis batu bara, khususnya coking coal, di tanah air sempat anjlok dan kemudian Adaro mulai beralih ke thermal coal sebagai bahan bakar energi listrik. Hal ini dilakukan karena pasokan listrik di Indonesia masih mengalami defisit.

“Tahu-tahu industri jatuh kita balik ke main business di thermal coal. Setelah fokus thermal saya bilang ke pemegang saham lain kita mesti masuk ke powerplan, value added mau diapain kalau jadi listrik. Negara kita kan butuh listrik,” tutur Boy.

Di tahun 2015, Adaro mulai memproduksi batu bara dengan kapasitas mencapai 1 juta ton per tahun dengan jumlah produksi hingga 40.000 ton saja per bulannya.

“2015 lalu mulai produksi kecil-kecilan kapasitas 1 juta ton setahun tapi real production 35.000 sampai 40.000 ton perbulan,” imbuh Boy.

Seiring dengan industri batu bara dalam negeri yang naik turun, anak usaha BHP Billiton memutuskan untuk menjual sebagian sahamnya. Gayung bersambut, Adaro pun membeli sisa 75% saham yang masih dikuasai asing tersebut. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan produksi coking coal untuk produksi baja.

“BHP Billiton dengan industri yang sulit mau fokus juga ke dalam negeri (Australia), akhirnya mereka pikir untuk menjual. Adaro nanggung nih udah 25% kita pikir aset ini terbaik yang Indonesia miliki. Aset sendiri tidak ada coking coal di luar Australia yang sebagus ini, jadi kita pikir kenapa nggak. Berani kita ambil walau dalam kondisi yang sulit kita percaya,” jelas Boy.

Dengan dicaploknya seluruh saham IndoMet Coal milik BHP Billiton oleh Adaro, maka diharapkan dapat meningkatkan produksi baja dalam negeri untuk kebutuhan konstruksi. Adaro membeli sisa saham IndoMet Coal sebanyak 75% dengan harga US$ 120 juta.

“Segala sesuatu nggak mungkin nggak pakai konstruksi, nggak mungkin nggak pakai baja. Inline dengan visi saya, kita udah di dalam kenapa kita nggak ambil 75% kita ambil semua US$ 120 juta,” tutup Boy.

Fokus Produksi Coking Coal

Dengan mencaplok sisa saham IndoMet Coal sebanyak 75% dengan harga US$ 120 juta dari kas perusahaan, Adaro berencana untuk mengembangkan tambang batu bara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Dari 7 tambang tersebut, 6 di antaranya merupakan batu bara jenis coking coal dan sisanya thermal coal.

“Pertama tadi kita akan fokus di Haju. Kita ada 7 tambang di Kalimantan Tengah dan di Kalimantan Timur, yang sudah produksi di Haju itu mungkin yang mua kita fokus. Dari 7 tambang, 6 coking coal dan 1 thermal coal,” jelas Boy.

Boy menilai pasar coking coal di dunia masih menjanjikan lantaran masih tingginya kebutuhan perumahan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.

“Pasar coking coal jauh lebih stabil daripada thermal coal. Karena tadi negara mana yang tidak butuh baja konstruksi. Baja mesti ada coaking coalnya, bisnis ini lebih stabil. Kenapa berani, karena memang saya percaya nggak mungkin dunia bisa membangun tanpa baja,” tuturnya.

Sedangkan kebutuhan akan thermal coal sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih bisa digunakan alternatif energi lainnya seperti gas.

“Kalau misalnya listrik ada subtitusi gas, biomass, thermal coal,” ungkap Boy.

sumber : detik.com