Equityworld Futures – Sudah hampir tiga (3) bulan terakhir ini masyarakat disibukkan dengan arti sebenarnya dari kata

Amnesti, terkait dengan Tax Amnesty (TA) atau pengampunan pajak.

Amnesti sendiri menurut kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), artinya pengampunan atau penghapusan hukuman yang diberikan Kepala Negara kepada seseorang atau sekelompok
orang yang telah melakukan tindak pidana tertentu.
Sedangkan pengertian “Amsyong” dari Bahasa China yang berarti rusak ataupun hancur.Kalau mendengar kata TA, publik langsung bingung dan bertanya-tanya, siapa sebenarnya sasaran TA ini? Dari awal

pembahasan UU No.
11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak, publik tidak terlalu pusing dengan TA karena Pemerintah
mengatakan bahwa UU ini ditujukan bagi para konglomerat atau orang kaya Indonesia yang memarkirkan uangnya (termasuk
uang haram) di luar negeri.
Sudah menjadi diskusi publik bahwa para konglomerat Indonesia sejak krisis finansial tahun 1998
berbondong-bondong melarikan uangnya ke luar negeri dengan macam-macam alasan,
seperti keamanan, takut terlacak
Pemerintah, menghindar pajak, dan sebagainya.Dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah selalu mengkampanyekan bahwa tujuan TA adalah untuk mengajak supaya para

konglomerat mau memulangkan uang mereka ke Indonesia dengan hanya dikenakan tebusan antara 4% – 10% dari nilai uang
yang dipulangkan, mulai September 2016 hingga Maret 2017.
Pemerintah juga tidak akan menanyakan asal usul uang itu.
Dengan kata lain mereka diampuni oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.Namun ketenangan publik mulai terusik sekitar bulan Juli 2016 ketika ternyata Pemerintah juga mengejar dengan semangat

TA dari WNI yang tinggal dan menyimpan uangnya di Indonesia,
dari yang melarat sampai yang kaya raya. Sayangnya sejak
awal, Pemerintah tidak melakukan komunikasi yang baik dengan publik.
Sehingga menimbulkan keresahan dan kepanikan
publik hingga hari ini. Satu pertanyaan dari Wajib Pajak (WP),
dijawab berbeda-beda oleh petugas dari Direktorat Jenderal
Pajak tanpa ada kepastian mana yang benar. Jadilah UU No.
11 Tahun 2016 tentang TA ini menjadi amsyong karena merusak
semangat publik untuk taat pajak.Persoalan Mendasar Kehebohan TA bagi Publik


sumber : detik.com