Lampung -Meskipun tidak terlalu populer seperti di Pulau Jawa, namun rupanya kereta api cukup potensial di Provinsi Lampung, khususnya untuk kereta barang. Dalam satu hari saja, Pendapatan harian Sub Divre III-2 Tanjung Karang Bandar Lampung bisa mencapai Rp 8,2 miliar.

Kepala Sub Divre III-2 Tanjung Karang, Daryadi mengatakan, 80 persen pendapatan Sub Divre III-2 Tanjung Karang berasal dari angkutan barang.

“Untuk pendapatan batu bara saja per hari bisa mencapai Rp 5,2 miliar. Belum dari pendapatan pulp kertas, semen dan penumpang biasa dan lainnya, total bisa Rp 8,2 miliar,” terangnya kepada wartawan di Kantor PT KAI Divre III-2 Tanjung Karang, Jalan Teuku Umar, Bandar Lampung, Selasa (17/11/2015).

Kereta Api barang diberangkatkan dari Stasiun Muaraenimbaru dan berakhir di Stasiun Tarahan. Satu kali keberangkatan, kereta barang yang mengangkut batu bara bisa membawa 47 gerbong atau 60 gerbong.

“Satu gerbong isi beratnya 65 ton. Satu gerbong itu sekitar 8,5 juta. Dikalikan saja 60 atau 47 gerbong,” ucap Daryadi.

Lebih lanjut Daryadi mengatakan, pihaknya sejak tahun 2009 hingga 2015, selalu ada peningkatan angkutan batu bara, sehingga angkutan barang ini menjadi primadona di Sub Divre III Sumatera Selatan.

“Kereta Api angkutan barang ini jadi maskot unggulan di wilayah divre Sumsel yang merupakan daerah pertambangan dan perkebunan,” jelasnya.

PT KAI mengangkut batu bara milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Selain batu bara, perseroan juga mengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik PT Pertamina dan bubur kertas PT Tel.

Sisanya, pendapatan diperoleh dari angkutan penumpang. Namun itupun tidak banyak. Saat ini, hanya ada dua rute perjalanan yang mengangkut penumpang, yaitu jurusan Tanjung Karang-Kertapati di Sumatra Selatan dan perjalanan lokal yang menghubungkan Tanjung Karang-Kota Bumi.

“Sehari tidak banyak, paling 700-900 orang,” tandasnya.

 

sumber : detik.com