Jakarta -Anjloknya harga komoditas pertambangan terutama batu bara tahun ini, membuat banyak perusahaan tambang tutup bahkan gulung tikar alias bangkrut. Akibatnya banyak perusahaan kreditnya macet alias tak bisa bayar utang ke bank.

Kondisi tersebut membuat angka kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) industri perbankan diperkirakan akan naik menjadi 3% di tahun ini. Hingga Juli 2015, NPL gross tercatat 2,7%.

Deputi of Head Equity Research Mandiri Sekuritas Chandra Linanjaya menyebutkan, sektor pertambangan menyumbang kontribusi terbesar dari tingginya angka kredit bermasalah ini.

Dia mengungkapkan, saat ini sektor pertambangan tengah dalam perhatian khusus Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sektor mining dalam perhatian khusus OJK karena NPL tinggi,” ucapnya saat Paparan Makroekonomi Outlook Mandiri Grup Triwulan III-2015 di Ruang Auditorium, Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/9/2015).

Chandra menyebutkan, angka kredit bermasalah sektor tambang tercatat naik signifikan dari 2,5% di bulan Desember 2014 menjadi 3,8% di Juli 2015.

Sektor lain yang juga menanggung angka kredit bermasalah tinggi adalah sektor konstruksi dari 4,6% di Desember 2014 menjadi 5,5% di Juli 2015.

Sektor trading, restoran dan hotel juga mencatat angka NPL tinggi menjadi 3,8% di Juli 2015 dari sebelumnya 3,0% di Desember 2014.

Selanjutnya, ada sektor transportasi, warehouse dan komunikasi yang angka kredit bermasalahnya tinggi mencapai 3,6% di Juli 2015 dari sebelumnya 3,2% di Desember 2014.

“NPL di tahun ini akan naik secara industri di angka 3% di akhir tahun,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Head of Economic Research Mandiri Sekuritas Aldian Taloputra menyebutkan, pelemahan harga komoditas masih akan terjadi disepanjang tahun ini. Tahun depan, masih ada peluang harga komoditas kembali naik.

“Tahun ini sih belum bisa diprediksi, belum akan naik. Mungkin tahun depan bisa,” katanya.

Menurut Aldi, salah satu harga komoditas yang masih akan merosot adalah harga minyak. Diperkirakan, harga minyak dunia masih di level US$ 60 barel di tahun 2016.

Global recovery tetap akan terjadi tapi nggak sekencang ekonomi sebelumnya. Hampir semua negara pada 2015-2020 tumbuhnya nggak sebesar sebelum krisis 2008. Konsekuensi harga komoditas akan seperti itu. Harga minyak kemungkinan akan sulit kembali,” terang dia.

Aldi menambahkan, harapan paling besar adalah perekonomian China cepat pulih sehingga dampak ke perekonomian Indonesia juga akan cepat membaik.

“Harapan kita, ekonomi China tidak jatuh lebih dalam, sehingga akan berpengaruh kepada faktor eksternal termasuk Indonesia, karena China mitra trading Indonesia yang besar,” pungkasnya.

sumber : detik.com