Impor Bawang Merah 2.500 Ton, Equityworld Futures
Equityworld Futures -bawang merah ,Dalam rapat koordinasi terbatas antar menteri yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi),

pemerintah memutuskan untuk mengimpor bawang merah sebanyak 2.500 ton.

 

Pilihan impor dilakukan untuk menjaga stabilisasi harga saat bulan Ramadan dan Idul Fitri.

Lantas, apa kabar realisasi impor bawang merah tersebut?

Menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono,

kuota impor bawang merah yang diberikan pada 3 BUMN tersebut sampai saat ini belum direalisasikan.

“Sepanjang produksi masih ada, saya pikir bijaksana kok Bu Menteri BUMN (Rini Soemarno)

minta bawang merah jangan masuk dulu lah, produksi kan banyak,” kata Spudnik ditemui di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (1/7/2016).

Menurutnya, bawang impor baru bisa masuk jika memang ada asumsi stok bawang lokal tak mencukupi kebutuhan.

Apalagi saat ini dengan Lebaran tinggal menghitung hari, stok bawang merah dianggap masih mencukupi.

“Insya Allah mudah-mudahan kalau misalnya bisa terpenuhi. Itu kan buat jaga-jaga,

saya pikir kan pemerintah juga punya kewajiban untuk menjaga stabilisasi harga.

Jaga jangan sampai konsumen menerima harga yang luar kendali,” terang Spudnik.

Kendati demikian, lanjut dia, impor bawang merah untuk kebutuhan bibit akan diupayakan

bisa secepatnya direalisasikan, mengingat harga benih bawang saat ini tengah tinggi-tingginya.

“Kalau benih silahkan, benih kita lihat kemarin harga masih cukup mahal,

dan mudah-mudahan ini insya Allah hanya 1.500 ton benih. Kalau benih saya pikir welcome dan petani bawang nggak begitu protes,” ungkapnya.

Spudnik menjelaskan, dari asumsi luasan dan manajemen tanam bawang merah yang dilakukan kementeriannya,

produksi bawang merah pada Juni dan Juli 2016 masing-masing sebesar 126.000 ton dan 137.807 ton.

Sementara untuk kebutuhan nasional pada dua bulan tersebut masing-masing 89.615 ton dan 83.881 ton,

atau dengan kata lain terjadi surplus. Kalkulasi tersebut sudah memperhitungkan peningkatan konsumsi pada saat Lebaran sebesar 10%.

“Produksi Juli anggaplah itu angka di proposal, tapi untuk Juni sudah angka realistis.

Angka yang sudah kita kumpulkan dari lapangan. Sepanjang nggak ada OPT (organisme pengganggu tanaman) aman sampai bulan depan,” ujar Spudnik.

 

Sumber : detik.com

Equityworld Futures

Simpan