Jakarta -Presiden ke-3 RI BJ Habibie kembali angkat suara soal melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Persoalan yang dihadapi saat ini juga pernah dialami oleh Habibie saat jadi presiden 16 tahun lalu.

Menurut Habibie saat ini yang paling penting bagi pemerintah tak perlu banyak berpikir soal rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Namun yang paling penting adalah bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.

“Saya harus dengarkan orang demo. Dolar naik turun tidak stabil. Bukan dolarnya, yang penting create lapangan kerja. Kalau orang itu demo, bukan karena naik sekian persen. Yang dia tahu bagaimana membiayai makan malamnya, bagaimana membiayai sekolah anak-anaknya,” kata Habibie di acara peluncuran Buku Tahir di Hotel Shangrila, Jakarta, Rabu (23/9/2015).

Menurutnya, persoalan nilai tukar rupiah menjadi tugasnya Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkannya.

“Wajar tidak usah kita bicara dolar. Serahkan ke Bank Indonesia. Enam belas tahun lalu, begitu konyol. Saya nggak mikir dolar. Yang saya pikir agar segala sesuatu yang akan terjadi di Indonesia harus menentu dan predictable. Predictable itu cost-nya rendah,” katanya.

Pada kesempatan itu, Habibie menceritakan soal pengalamannya memimpin Indonesia saat transisi pasca Orde Baru, termasuk soal posisi Bank Indonesia.

“Saya setelah dilantik, keluarkan Bank Indonesia dari kabinet. Saya diprotes, masa bodoh. Buktinya berkembang,” katanya.

“Kerja keras, create lapangan kerja,” seru Habibie.

Dua tahun lalu, Habibie juga menyampaikan pesan yan kurang lebih sama soal kurs dolar terhadap rupiah. Pada waktu itu, 2013 dolar baru mencapai Rp 11.000, sedangkan saat ini sudah Rp 14.600.

“Satu yang harus diperhatikan kita harus cermat, kita harus jadi mata uang yang kualitasnya tinggi. Itu artinya bukan hanya nilainya, tapi konstan, jadi bisa diperhitungkan, atau predictable. Misalnya kalau keadaaan rupiah melemah yang menguntungkan adalah produksi dalam negeri dan dia dibendung untuk yang datang dari luar negeri,” tutur Habibie di Gedung BPPT, Jalan Thamrin, Jakarta, Senin (26/8/2013).

Habibie meminta agar pemerintah meningkatkan penggunaan barang dalam negeri dan menekan impor, sehingga saat dolar menguat, maka tidak akan terpengaruh.

Pada kesempatan tersebut, Habibie yakin generasi sekarang, baik di DPR maupun di kabinet bisa mengatasi masalah ekonomi yang terjadi saat ini. Saat ini pembangunan yang pro rakyat harus terus dilakukan. Habibie ingin agar rakyat jangan menderita akibat pergerakan yang terjadi pada rupiah, yang menjadi tanggung jawab Bank Indonesia (BI).

“Perubahan (rupiah) apapun itu jangan sampai terjadi tak dapat diperhitungkan, kalau itu tak dapat diperhitungkan, maka itu mengganggu nilai, mengganggu inflasi, semua mengganggu karena kalau sudah tidak bisa diperhitungkan kayak gambling saja. Ini harus dihindari, di sini perlu kerjasama antar generasi, untuk mengambil kebijakan sebanyak mungkin yang menguntungkan rakyat, misalnya peningkatan lapangan, tidak ada PHK dan sebagainya,” papar Habibie pada waktu itu.

 

Sumber: Detik.com