Equityworld futures – Kuching -Dalam 15th Peat International Congress yang diselenggarakan di Kuching, Malaysia, terungkap bahwa ternyata bukan hanya negara-negara tropis seperti Indonesia dan Malaysia saja yang mengeksploitasi lahan gambutnya. Negara negara Eropa Juga Mengeksploitasi Lahan Gambut

Negara-negara Eropa, yang kerap mencap Indonesia sebagai perusak lingkungan karena membuat perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, ternyata juga melakukan aktivitas eksploitasi lahan gambut yang merusak lingkungan.

Guru Besar Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB), Supiandi Sabiham, menuturkan bahwa perusakan lahan gambut yang dilakukan negara-negara Eropa bahkan lebih parah dibandingkan Indonesia.

Jika Indonesia hanya menanam sawit di atas lahan gambut, Supiandi menjelaskan, negara-negara Eropa mengeruk tanah gambut untuk bahan baku berbagai produk industri.

Irlandia misalnya, mengambil tanah gambut untuk dijadikan briket (bahan bakar). Lalu di Finlandia, lahan gambut dikeruk, diolah menjadi biomassa untuk menghidupkan pembangkit listrik.

 

Lalu di Jerman, tanah gambut diambil untuk dijadikan media tanaman.

“Saya pernah ke Irlandia, Finlandia, dan beberapa negara lain. Gambut tidak hanya untuk pertanian, tapi juga diekstrak untuk biomassa dan media tanaman,” kata Supiandi saat ditemui di Hotel Pullman, Kuching, Malaysia, Kamis (18/8/2016).

Tapi Non Government Organisation (NGO) alias Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di dunia internasional menerapkan standar ganda. Wakil Dekan IPB, Suwardi, merasa heran karena aktivitas perusakan lahan gambut yang dilakukan oleh negara-negara Eropa tidak disorot, tidak diprotes.

Sementara penggunaan lahan gambut untuk perkebunan sawit diprotes habis-habisan, kampanye hitam terhadap sawit Indonesia luar biasa masifnya. Sebagian besar kajian terhadap lahan gambut difokuskan pada lahan gambut tropis di Indonesia.

“Total lahan gambut di dunia besar sekali, 80% ada di Eropa, di Indonesia kecil sekali. Kenapa mereka hanya meneliti gambut tropikal? Tentu ada sesuatu, karena ada kepentingan,” kata Suwardi.

Menurutnya, fokus penelitian tersebut tendensius, sarat kepentingan negara-negara Eropa.

Lahan gambut di Indonesia disorot karena dimanfaatkan untuk kelapa sawit.

Sawit mampu menghasilkan minyak nabati (Crude Palm Oil/CPO) yang harganya sangat murah, jauh lebih efisien dibanding minyak nabati dari rapeseed dan kedelai produksi negara-negara Eropa.

Pada dasarnya, pembentukan opini publik bahwa perkebunan sawit di Indonesia merusak lingkungan bermotif persaingan dagang.

“Gambut merupakan lahan yang tidak banyak disentuh. Begitu dimanfaatkan untuk sawit, kemudian menyaingi produk mereka (Eropa), langsung diteliti,” ucapnya.

Tapi dari berbagai penelitian teranyar, terbukti bahwa dampak lingkungan dari perkebunan sawit tidak signifikan. Sekarang harusnya eksploitasi lahan gambut di negara-negara Eropa yang lebih diperhatikan.

“Dari berbagai hasil penelitian ternyata emisi CO2 dari perkebunan sawit di lahan gambut itu kecil. Sekarang data sudah banyak, marilah kita ambil,” tutupnya.

 

 

Sumber: Detik.com