Jakarta -PT Energy Management Indonesia (EMI) mendirikan pabrik pelet kayu atau ‘wood pellet’ di Purworejo, Jawa Tengah. Peletakan batu pertama atau pembangunan pabrik pembangkit listrik wood pelet ini dilakukan hari ini.

Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Purworejo, Mahsun Zain, Direktur Utama EMI Aris Yunanto, dan para pejabat daerah.

Peresmian pembangunan yang berlokasi di Jl. Ringroad Barat Kelurahan Sucenjuru Tengah, Purworejo ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Aris dam Mahsun yang disaksikan pejabat daerah setempat serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Aris mengatakan, pabrik yang ditargetkan beroprasi pada pertengahan tahun 2016 ini dibangun untuk upaya penghematan dan menyiapkan energi alternatif yang ramah lingkungan.

Menurut Aris, produk dari limbah industri pengolahan kayu di Kedu Selatan, kayu kaliandra dan glirsidia (pohon Gamal) ini bisa dipakai sebagai pengganti energi batu bara.

“Ini (pendirian pabrik pembangkit listrik wood pelet) sebagai upaya EMI dalam mendukung program pemerintah dalam hal efisiensi sumber daya energi dan energi baru terbarukan,” kata Aris, di lokasi seperti dikutip dari siaran pers, Minggu (4/10/2015).

Pabrik yang didirikan pada lahan seluas 10 hektar ini, nantinya mampu memproduksi 36.000 ton pelet kayu per tahun. Potensi pelet kayu ini jika dikonversikan menjadi pembangkit listrik bisa menghasilkan listrik sedikitnya 5 megawatt (MW), dijelaskan Satrio Astungkoro, Direktur PT Energi Biomasa Indonesia, anak usaha EMI yang akan mengoperasikan pabrik wood pellet.

Berbeda dengan batu bara biasa, pelet kayu ini memiliki kalori mencapai 4.800 kilo kalori (kkal). Bahkan kalau ditambah jadi arang aktif atau bio car coal kalorinya bisa mencapai 7500 kkal. Aris menerangkan sejumlah keunggulan wood pellet dibandingkan batu bara.

“Limbah batu bara termasuk kategori B3 atau berbahaya sementara abu wood pellet bisa langsung diaplikasikan ke tanah sebagai pupuk. Batu bara susah dibakar dan kalau sudah terbakar harus sampai habis dan mati. Wood pellet sama seperti kayu bakar, tapi tingkat kalorinya sama seperti batu bara. Bisa dimatikan jika tidak dipakai, dan dibakar lagi,” terang Aris.

Lebih lanjut dikatakan Aris, bahan baku wood pellet yang bagus adalah kayu keras, misalnya kaliandra merah (Caliandra callothyrsus). Tanaman ini dapat dikatakan ‘bandel’ lantaran mampu hidup di lahan dengan kadar air sangat rendah sampai di tanah subur. Juga tumbuh di ketinggian lahan rendah seperti sekitar pantai, hingga jauh di atas permukaan laut seperti gunung atau pebukitan.

“Kaliandra merah juga bisa menyuburkan tanah melalui fiksasi nitrogen dalam tanah. Tinggi pohon kaliandra merah hanya 2,5 meter sampai 3 meter. Pohon ini memiliki diameter 10 cm. Kalau mau lebih bagus lagi, dibikin jadi arang dulu sehingga kalorinya setara dengan 7000-7500 kal. Itu setara dengan batu bara kelas terbaik dan tidak mengakibatkan polusi, baik pada pemanfaatan produk maupun limbah abunya” ujar Satrio.

Bahan baku untuk memproduksi wood pellet ini didatangkan dari sekitar wilayah Purworejo hingga Wonosobo, Magelang, Kebumen, hingga Banyumas. Warga Purworejo juga dapat berpartisipasi sebagai penyuplai bahan baku tersebut. Dalam melakukan kegiatan produksi, EMI mengerahkan tenaga-tenaga terlatih dan professional, serta didukung peralatan yang terbaik.

Investasi yang disiapkan untuk membangun pabrik bahan bakar alternatif dan terbarukan yang ramah lingkungan ini mencapai Rp 40 miliar. Meski demikian, Aris tak khawatir soal pasar.

Sebab, penggunaan pelet kayu sebagai bahan bakar sudah lazim di beberapa negara. Ia memberi contoh, selain perusahaan pembangkit listrik, industri makanan dan minuman di dalam negeri juga sudah memesan pelet kayu sebagai bahan bakarnya.

“Karena ini (pelet kayu) adalah bio massa yang artinya tidak menyebabkan polusi dan ramah lingkungan, sehingga bagus untuk industri makanan minuman,” ucap Aris.

Karena itu, pelet kayu buatan EMI ini akan menyasar pasar ekspor, khususnya Jepang dan Korea Selatan. Selain itu, perusahaan plat merah ini berencana menggunakan pelet kayu tersebut untuk memproduksi listrik sendiri. EMI rencananya akan mengembangkan usaha pembangkit listrik berkapasitas 5 MW–10 MW di beberapa lokasi di Indonesia

Zain mengapresiasi berdirinya pabrik pelet kayu EMI di wilayahnya. Menurut Zain, banyak manfaat yang akan dirasakan dari berdirinya pabrik milik BUMN yang bergerak di bidang Konversi dan Konservasi Energi dan air tersebut.

Misalnya, membuka lapangan kerja baru untuk warga sekitar, sekaligus menambah kegiatan ekonomi masyarakat sebagai pengumpul kaliandra

“Kita dapat merasakan banyak manfaat dari berdirinya pabrik ini. Ini juga sejalan dengan program pemerintah,” kata Zain.

 

sumber : detik.com