Kalangan pengusaha dan industri menilai bunga kredit perbankan di Indonesia terlalu tinggi, sehingga industri dalam negeri sulit bersaing. Namun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator perbankan punya penilaian sendiri.

Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad mengatakan, bunga kredit itu porsinya hanya 12-14% saja di dalam beban biaya keuangan perusahaan.

“Yang harus jadi perhatian itu jangan hanya bunga, ada pajak, ada perizinan, ada macam-macam. Itu semua sangat menentukan, sepanjang demand masih kuat saya rasa tidak masalah, dan bunga itu peranan keuangan perusahaan kan proporsinya hanya 12-14% saja di biaya perusahaan,” kata Muliaman saat open house di rumahnya, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (18/7/2015).

Jadi sisa 85% komponen beban biaya perusahaan itu yang harus jadi perhatian. Sehingga daya saing industri Indonesia bisa terkawal dan bagus.

Deputi Bidang Pengaturan dan Pengawasan Perbankan OJK, Mulya Siregar mengatakan, laju inflasi yang tinggi di Indonesia membuat bunga kredit bank juga tinggi dibandingkan negara tetangga.

Muliaman mengatakan, di tengah perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini, memang pertumbuhan kredit bank akan turun, tapi tidak dramatis.

“Malah ada bank yang tidak terlalu terpengaruh, terutama bank yang memberikan kredit ke dalam negeri, artinya kepada bisnis yang basisnya di dalam negeri,” kata Muliaman.

Dari sejumlah Direktur Utama perbankan dalam negeri yang ditemuinya, Muliaman mengatakan, ada yang masih optimistis laju pertumbuhan kredit perbankan bisa mencapai 16%.

“Dalam negeri masih punya potensi tumbuh, yang pasarnya di dalam negeri, kami harap ini menstimulasi. Makanya kami dorong, terutama pemberian kredit pada UKM-UKM. Jadi ini salah satu area yang OJK akan fokus, kami akan banyak melakukan fasilitasi beberapa dunia usaha, contoh modal ventura saya akan fasilitasi dengan pengusaha-pengusaha pemula, dan asosiasi industri kreatif, yang juga akan saya fasilitasi dengan pembiayaan bank,” papar Muliaman.

Perbankan Indonesia akan didorong OJK untuk memberikan kredit kepada sektor-sektor produktif. Sehingga lapangan kerja bisa tercipta. “Jadi fokus paruh kedua 2015, fokus dorong pembiayaan pada sektor-sektor yang di dalam negeri pasarnya terutama UMKM,” ujar Muliaman.

Sumber: Detik.com