Jakarta -Kalangan buruh mengeluhkan soal rendahnya upah minimum kota (UMK) di Batam, Kepulauan Riau. Tingkat gaji di Batam mulai turun dan berada di bawah Jakarta, setelah Otorita Batam dihapuskan.

Pengurus DPP Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, Roni Febrianto menjelaskan, pada zaman pemerintahan BJ Habibie, Batam direncanakan menjadi kekuatan ekonomi baru yang mengalahkan Singapura.

Rencana menjadikan Batam kota internasional cukup berisiko. Karena biaya makan dan hidup di kota tersebut akan mahal.

“Contoh pada masa Habibie dulu, gaji saya di Jakarta Rp 300 ribu, di Batam sudah Rp 400.000,” jelas Roni kepada detikFinance, Jumat (10/7/2015).

Namun para tahun 2000-an, Otorita Batam dihapus dan pegelolaan kota ini diambil alih oleh Pemerintah Kota. “Ini membuat pengusaha mulai bermain, dan kepentingan Singapura masuk. Mulai 2012, upah tenaga kerja di Batam mulai berada di bawah Jakarta, namun biaya hidup tetap tinggi. Batam banyak pendatang, tapi nggak punya hasil bumi,” papar Roni.

Biaya hidup yang tinggi, harga rumah yang mahal, serta upah rendah, membuat banyak pekerja di Batam tinggal di rumah liar. Saat ini saja, besaran UMK di Batam Rp 2,5 juta/bulan, sementara di Jakarta sudah Rp 2,7 juta/bulan.

“Permintaan para pekerja jelas UMK minimal sama seperti Jakarta. Sekelas kota internasional seperti Batam, upah segitu nggak layak,” kata Roni.

“Apalagi ada perbedaan pembayaran pekerja lokal dengan asing. Pekerja asing dibayar sesuai mata uang negara asal. Kalau seperti sekarang, dolar tinggi, jelas timpang antara gaji dengan pekerja asing. Ini bisa memicu kecemburuan sosial,” jelas Roni.

sumber :detik.com