Jakarta -Kesepakatan Indonesia dengan China terkait bilateral swap agreement (BSA‎) dapat membantu Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Terutama ketika dolar AS diprediksi bakal menguat di tengah isu The Fed AS akan menaikkan suku bunga acuannya.

Penguatan dolar AS dimungkinkan kembali terjadi, seiring dengan rencana kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed bulan depan.

Komitmen BSA sudah ada sejak beberapa waktu lalu, namun dalam pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Xi Jinping di Turki dalam agenda G20, diketahui ada kesepakatan untuk penambahan menjadi 130 miliar remimbi atau setara US$ 20 miliar.

‎”Dalam prosesnya kami terus berkomunikasi dengan pemerintah khususnya kemenkeu, tadi disampaikan kita mengapresiasi penambahan BSA dari 100 miliar remimbi atau US$ 15 miliar menjadi 130 miliar remimbi atau setara US$ 20 miliar untuk support likuiditas,”‎ kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo‎ di Kantor Pusat BI, Jakarta, Selasa (17/11/2015)

Perry menyebutkan, kenaikan suku bunga harus diperlukan langkah antisipasi, sebab ada reaksi pasar‎ yang tidak diketahui berapa besarnya. Sementara sekarang sudah dilakukan langkah BI dengan menahan suku bunga di level 7,5%

“Ini juga merupakan bagian penguatan dari dulu sampai sekarang, khususnya gejolak eksternal terutama bagian antisipasi dari rencana kenaikan Fed Fund rate,” pungkasnya.

Perjanjian currency swap ini adalah sebuah kesepakatan antar negara untuk melakukan pertukaran mata uang, dengan menetapkan bunga dan jumlah uang, yang akan dipertukarkan selama jangka waktu berlakunya perjanjian tersebut.

 

sumber : detik.com