Jakarta -Devaluasi atau penurunan nilai mata uang yuan yang sengaja dilakukan oleh People’s Bank of China membuat barang-barang impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut bakal lebih murah di pasar ekspor.

Para pelaku industri tekstil nasional mengaku khawatir dengan penurunan nilai tukar yuan ini, sebab tekstil asal China bisa menggerus pasar tekstil di dalam negeri dengan membanting harga.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan pelaku industri tekstil di dalam negeri awalnya sedikit bersyukur dengan adanya pelemahan rupiah, sebab jatuhnya rupiah membuat tekstil impor, termasuk tekstil dari China, menjadi lebih mahal di pasar dalam negeri.

Namun kondisinya langsung berubah begitu China sengaja menjatuhkan nilai tukar yuan, tekstil China kembali menebar ancaman di pasar domestik.

“Dengan pelemahan rupiah yang terjadi, pada awalnya tentu menghambat TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) impor baik dari Tiongkok maupun Korea, tapi begitu Tiongkok melemahkan yuan-nya tentu keadaan kembali seperti semula, impor dari Tiongkok kembali menjadi bersaing kembali,” kata Ade kepada detikFinance di Jakarta, Senin (24/8/2015).

Ade mengaku pihaknya hanya bisa pasrah menghadapi serbuan tekstil asal China. Sebab, tak ada yang bisa dilakukan para pengusaha untuk membendungnya kecuali pemerintah membantu. Ia mengusulkan agar pemerintah menurunkan tarif listrik untuk industri agar industri tekstil lokal bisa bergairah kembali dan lebih berdaya saing.

Saat ini, industri tekstil amat terbebani oleh tarif listrik industri yang sudah dicabut subsidinya oleh pemerintah sejak 2014 lalu. Bila tarif listrik industri bisa diturunkan kembali, Ade yakin industri tekstil Indonesia bisa bersaing dengan China.

“Tiada cara apapun yang bisa dilakukan para industriawan lokal untuk menahan laju impor, kecuali pemerintah menurunkan tarif listriknya,” tutupnya.

Sebelumnya, pasca devaluasi mata uang yang dilakukan oleh China, pasar keuangan dan mata uang di negara global anjlok. Tak terkecuali nilai tukar rupiah yang ikut terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan per 12 Agustus 2015, depresiasi rupiah sudah mencapai 10,16% (year to date). “Kebijakan‎ China itu berdampak negatif terhadap mayoritas mata uang negara-negara di dunia termasuk Indo‎nesia. Secara year to date depresiasi mencapai 10,16%,” ungkap Agus.

Agus menambahkan posisi China yang melemahkan mata uang, merupakan bagian dari upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui ekspor. Senin 11 Agustus 2015 depresiasi Yuang mencapai 1,9% terhadap dolar AS dan Selasa 12 Agustus 2015 dilanjutkan dengan depresiasi 1,6%.

‎”‎Ini arena kondisi di China itu terjadi pelemahan kinerja ekspor, capital outflow yang cukup serius dan, dan cadangan devisa yang menurun,” tukasnya.

sumber : detik.com