Pemerintah Minta Harga Daging Rp 80.000/Kg, Peternak di Bantul: Kita Rugi
Equityworld Futures -Pemerintah meminta harga daging sapi dijual sekitar Rp 80.000/kg.
Besaran harga itu dinilai memberatkan para peternak sapi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.Alasannya, harga pakan seperti konsentrat, ampas ketela, damen, rumput dan lain-lain saat ini terus mengalami kenaikan.”Kalau harga daging sapi ditetapkan pemerintah Rp 80.000/kg, peternak akan rugi.

Peternak bisa gulung tikar seperti tahun 2011 lalu,” ungkap M. Soim, salah satu anggota Kandang Kelompok Peternak Sapi Sidomulyo dalam acara diskusi soal harga daging sapi di Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Bantul, Minggu (26/6/2016).

Menurut Soim, hampir semua pakan ternak sapi milik warga Segoroyoso seperti rumput, damen padi, konsentrat, bekatul, ampas ketela dan daun kleci disuplai dari luar desa.

Pakan rumpun dan damen di sekitar Pleret sudah tidak mencukupi untuk ratusan sapi yang dibudidayakan peternak.

“Semua dari luar desa dan harga pakan terus naik. Satu ekor sapi biaya pakan bisa mencapai Rp 40.000/hari.

Peternak rela mengurangi jatah makan keluarga daripada sapinya kelaparan,” keluh dia dalam acara diskusi

Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi (PPDS) Segoroyoso, Bantul, Ilham Akhmadi mengungkapkan harga daging sapi di bawah Rp 100.000/kg atau Rp 80.000/kg seperti yang ditetapkan pemerintah saat ini adalah tidak realistis.

Harga tersebut tidak sebanding dengan harga ternak per ekor sapi yang dibudidayakan peternak.

“Kalau harga seperti itu, peternak kecil akan rugi,” kata Ilham.

Ilham memaparkan bahwa satu ekor sapi layak potong dijual sekitar Rp 22,5 juta.

Harga daging sapi segar di tingkat konsumen saat ini di atas Rp 100.000/kg.

Kendala lain yang dihadapi peternak saat ini adalah minimnya pasokan sapi bakalan (anak sapi) di pasaran.

“Selain harga sapi bakalan sudah mahal, biaya pakan ternak juga ikut naik,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Prof Dr Ir Ali Agus menambahkan dalam jangka panjang jumlah populasi sapi harus ditambah.

Salah satunya melalui impor sapi bakalan.

Menurut dia, salah satu pemicu kenaikan harga daging sapi saat ini adalah meningkatnya permintaan daging sapi di Jabodetabek saat puasa dan jelang Lebaran.

Konsumen daging sapi sebanyak 16% di Indonesia ada di Jabodetabek dengan tingkat konsumsi sekitar 15 kg/kapita/tahun atau lebih tinggi dibanding daerah lain.

“Setiap menjelang puasa, permintaan di wilayah itu terus naik hingga Lebaran,” katanya.

Menurut dia kebijakan jangka pendek seperti sekarang ini tidak menyelesaikan persoalan utama mengenai minimnya pasokan daging sapi nasional.

Sebab, selama ini tidak ada tambahan produksi populasi sapi.

Hanya memindahkan sapi dari satu daerah ke daerah lain.

“Yang harus dijaga adalah jangan sampai sapi-sapi betina produktif ikut dipotong karena faktanya kita kekurangan sapi jantan untuk dipotong,” katanya.

Menurut Agus, pemerintah hanya mengandalkan kebijakan impor daging atau sapi bakalan hidup untuk menekan harga daging sapi di pasaran.

Namun tidak melakukan kebijakan untuk menambah populasi sapi betina produktif.

Pemerintah perlu melakukan impor bibit sapi hidup untuk menambah jumlah populasi sapi.

“Minimal 200.000 ekor sapi bibit lalu disebar di seluruh Indonesia,

tapi ada pembatasan hanya 50.000 ekor saja,” katanya.

Untuk mengimpor 200.000 ekor bibit sapi lanjut dia, pemerintah bisa menggandeng swasta yang selama ini mendapat izin melakukan impor sapi bakalan. Peraturan yang ada,

perusahaan impor sapi bakalan diharuskan membawa sapi betina produktif minimal 10%.

Sumber : detik.com

Equityworld Futures

Simpan

Simpan