Jakarta -Dampak maraknya peredaran barang palsu atau abal-abal tak hanya berdampak pada konsumen sebagai pengguna, negara dan produsen juga kena dampaknya. Barang palsu akan menggerogoti pasar barang asli, sehingga investor malas untuk tanam modal.

Hal ini disampaikan Direktur Kerjasama dan Promosi Ditjen Kekayaan Inteletual Kementerian Hukum dan Ham Pargulatan Lubis di Hotel Fairmonth, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2015).

“Kerugian negara yang jelas tentu pajak, tapi yang besar lagi investasi, sudah barang tentu investor akan mikir terlalu risiko bikin produk atau pabrik di sini kalau pasarnya berkurang karena ada barang palsu. Mereka nggak mau inves lagi,” katanya.

Seperti diketahui ada beberapa produk di dalam negeri yang kerap dipalsukan antara lain kosmetika, software, tinta printer, sparepart kendaraan, jamu,barang dari kulit dan lain-lain.

“Barang-barang palsu ini bukan saja merugikan pengusaha, tapi juga pembeli, paling banyak barang palsu paling merugikan konsumen kan barang-barang elektronik dan sparepart, barang-barang itu jelas tidak punya standar bagus, kalau dipakai nggak berapa pasti lama rusak,” katanya.

Ia mengatakan selama ini barang palsu dari impor umumnya didatangkan dalam jumlah besar tanpa merek ke dalam negeri. Setelah sampai di Indonesia, barang-barang tersebut diberi merek, misalnya sparepart kendaraan bermotor.

“Nanti dia ganti pakai merek yang sudah dikenal, kaya Yamaha, Honda, dan sebagainya,” katanya.

sumber : detik.com