Equityworld Futures – Sebelum berkantor di kawasan Kemang, The Habibie Center (THC) sempat menyewa seluruh lantai32 Wisma BNI di pusat perkantoran, Jalan Sudirman. Dari Kocek Pribadi hingga Sumbangan Luar Negeri

 

Bisik-bisik soal sumber pendanaan lembaga itu pun menyeruak.

Ketua Dewan Direktur Habibie Center rupanya mafhum ikhwal isu tersebut.

“Dana awal pendirian THC boleh dibilang 98 persen dari Pak Habibie,” ungkap Watik kepada pers sebelum acara peresmian THC di Hotel Kemang, November 1999.

Tanpa menyebut angka detail, ia memaparkan seputar kondisi keuangan Habibie.

Sejak 1974, Habibie diketahui memegang puluhan jabatan strategis di bidang teknologi tapi tak pernah mengambil gajinya.

Begitu pun ketika ketika menjadi wakil presiden dan kemudian Presiden RI. Sebab semuanya langsung didepositokan dalam bentuk dolar AS.

Selain itu, sebagai pakar teknologi kedirgantaraan, Habibie juga mendapat royalti dari delapan hak paten, khususnya dari Airbus dan pesawat tempur F-16.

 

Semua royalti itu juga langsung didepositokan bersama.

“Habibie mencairkan seluruh depositonya untuk dialirkan ke THC, sementara dana yang dipakai untuk operasionalisasi cukup dari bunganya saja.

Selama lima tahun ke depan, insya Allah THC mandiri soal dana,” kata Watik kala itu.

Direktur Eksekutif The Habibie Center, Rahimah Abdulrahim menjelaskan hingga sepuluh tahun pertama semua dana operasional THC memang dibiayai oleh keluarga Habibie.

“Tapi setelah sepuluh tahun kami janji akan mandiri.

Dan sejak 2010 sampai sekarang kami mandiri,” kata Ima saat berbincang dengan detikcom, Senin (14/8/2017).

Sama seperti lembaga think tank, lembaga kajian di dunia mau pun universitas-universitas, THC juga melakukan penggalangan dana dari sejumlah organisasi donor secara selektif.

“Kami tidak akan menerima (dana) dari organisasi yang tidak mendukung demokrasi di Indonesia,” tegas Ima.

Juga memastikan si pemberi donor tidak menyertakan syarat-syarat tertentu atau mendikte.

Urunan duit keluarga Yudhoyono menjadi modal untuk membangun The Yudhoyono Institute (TYI).

Lembaga ini ke depan, menurut Juru bicara TYI Ni Luh Putu Caosa Indrayani, bakal menggalang dana.

“Biasanya kan think tank nanti ada yang menyumbang. Kita pasti galang dana.

Nanti kan ada itu school of leadership dan majalah Strategi itu kan juga dijual,” ujarnya.

Sementara Ahmad Suaedy, salah seorang pendiri Wahid Institute mengungkapkan bahwa lembaga ini mendapat dana dari donor asing.

Masing-masing pendiri dan para eksekutif yang terlibat di dalam Wahid Institute, kata dia, bergerak mencari dana sendiri melalui jaringannya masing-masing.

Suaedy yang lama berkiprah di Asia Foundation memanfaatkan jaringan di lembaga itu.

“Saya sendiri dari Asia Foundation, jaringan saya di sana.

 

Yenny (Zanuba Wahid) juga ada sendiri.

Modalnya bisa dibilang proposal-lah,” jelasnya.

Biasanya pendanaan hanya berlaku selama setahun.

Beberapa anggota yang berisi sekitar 15-20 orang sudah memiliki program masing-masing selama setahun.

Memperoleh dana seperti ini bukan tanpa resiko.

Saat mereka menentang Fatwa MUI mengenai Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama (Sepilis) pada 2005, isu sebagai antek asing-pun menerpa Wahid Institute.

“Waktu itu banyak yang kritik oleh kalangan ormas, didanai luar negeri-lah, tidak NKRI-lah,” ujar Suaedy.

Namun berkat integritas masing-masing personel, isu tersebut tak mengganggu mereka dan tidak berkembang lebih lanjut.

“Intinya, kami tak membebani APBN juga tak mau berharap dari kucuran dana parpol.

Itulah yang membuat kami tetap independen,” imbuhnya.

 

 

Equityworld Futures