Equityworld Futures – Motor berkubikasi besar bukanlah motor harian yang dimiliki banyak orang. Segmentasi pasar ini terbatas pada kelas hobi yang terbilang cukup mahal. Besarnya pundi-pundi yang dikeluarkan untuk memiliki motor-motor ini tidak sebanding dengan populasi pemiliknya.

Salah satunya motor Harley-Davidson yang khas dengan raungan mesin dari motor bergaya cruiser Negeri Paman Sam ini. Meskipun penjualannya tidak sebesar motor bermesin kecil, diler-diler Harley di Indonesia masih mampu bertengger di Tanah Air.

“Sejak tahun 1990 sampai sekarang jumlah pemilik motor Harley Davidson mencapai 15.000 motor. Dengan servis saja harusnya kita bisa hidup,” ujar Dealer Principal Anak Elang Harley-Davidson of Jakarta, Sahat Manalu saat ditemui detikOto di dilernya (11/11/2018).

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini mau tidak mau menekan berbagai industri impor sepeda motor yang konsumennya sangat banyak di Indonesia.

“Kesulitan aturan baru ini tidak ada. Cuma kita sebagai warga negara yang taat harus mengikuti. Buat diler dampak pasti ada tapi ini kan motor hobi bukan primer jadi segmentasi pasarnya sudah jelas orang punya uang yang benar-benar ingin punya motor ini. Beda dengan motor menengah ke bawah cc kecil karena itu kebutuhan primer,” tambah Sahat.

Meskipun dengan berbagai kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah saat ini, Anak Elang tetap berusaha memenuhi permintaan konsumen yang ingin memiliki motor Harley-Davison. “Memang sekarang kita prihatin negara berusaha menekan impor tapi kita juga tidak boleh melupakan animo teman yang ingin punya motor baru. Jadi kita akan tetap mendatangkan motor sesuai kuota dan order yang diterima.

Untuk menyiasati pembatasan impor, Sahat dari Anak Elang tidak akan menyediakan stok motor yang banyak. “Karena daya beli menurun akibat dolar naik dan kebijakan pajak yang dibuat sesuai kebutuhan masyarakat kita,” katanya.

Equityworld Futures

Equityworld