Equityworld futures-Tak bisa dipungkiri, kian hari pergerakan ponsel China semakin agresif. Namun ternyata hal ini tak membuat Samsung was-was. Apa alasannya?

Menurut Samsung, purna jual menjadi kunci utama yang ditonjolkan produsen Korea Utara tersebut.

Demi bisa mengambil hati konsumen di Indonesia, kebanyakan vendor China yang jualan di Indonesia menyodorkan spesifikasi tinggi namun dengan banderol yang sangat terjangkau.

Cara ini terbilang berhasil, meski sejumlah pertanyaan sempat mampir di benak penggunanya. Tak sedikit yang mempertanyakan soal purna jual ponsel yang dibelinya.

Menurut Denny Galant selaku Head of PM IT & Mobile Samsung Indonesia, hal ini berbeda dengan Samsung. Sebab selain produknya sendiri yang digarap sesuai kebutuhan konsumen Indonesia, purna jual menjadi bagian penting yang ditekankan oleh Samsung. Dari kelas atas hingga bawah mendapat perlakuan sama.

Selain itu Samsung juga melakukan cara-cara yang bisa mendekatkan dengan konsumen Indonesia. Salah satunya adalah dengan menghadirkan fitur-fitur unggulan yang sengaja dihadirkan berdasarkan kebutuhan konsumen Indonesia.

Yang terbaru adalah fitur Ultra Data Saving dan S-Bike yang hadir di Galaxy J3 2016 yang baru diluncurkannya hari ini (2/6/2016).

“Kami coba gali kebutuhan konsumen Indonesia, ‘kebutuhannya apa?’. Misal kuota data sering habis, sekarang ada fitur UDS (Ultra Data Saving/fitur penghemat data). Keselamatan berkendara juga ada S-bike. Tak sampai di sini, kami masih akan terus mengembangkan aplikasi lainnya,” kata Denny, di sela-sela peluncuran Galaxy J3 2016, di kawasan SCBD, Jakarta.

“Kemasan produk juga kami buat rasa lokal, agar dekat dengan Indonesia. Kami juga memenuhi aturan pemerintah,” imbuhnya.

Sementara itu ketika dimintai tanggapannya soal tingginya peredaran ponsel ilegal di Indonesia, Denny yang mewakili Samsung tak mau banyak bicara.

Ia mengungkapkan, persoalan ponsel ilegal, sepenuhnya ada di tangan pemerintah. Denny menekankan kapabilitas Samsung saat ini adalah memenuhi peraturan pemerintah yang berlaku saat ini.

“Kami (justru) cenderung sebagai korban. Soal ponsel ilegal mestinya pemerintah yang bertindak, itu urusan pemerintah,” tambah Denny.

“Pada akhirnya konsumen yang akan rugi (kalau beli ponsel ilegal). Kalau kami sudah mengikuti aturan pemerintah,” pungkasnya.

 

 

Sumber: Detik.com