Equityworld Futures – Dirut Kereta Commuter Line Jakarta (KCJ) M Nurul Fadhila meminta urusan kursi di peron stasiun

tak diributkan. Kursi sender yang kerap disebut ala jemuran itu, sebenarnya dibuat untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.

Bila kursi model duduk dipakai, dikhawatirkan akan mengganggu penumpang yang lain.

“Terus begini saya tanya lagi, kenapa yang diributkan hanya kursi sandar? Kenapa nggak diangkat kursi prioritas?

Kan saya sudah pasang kursi prioritas di peron. Jadi maksud saya gini, tolong kita jangan meributkan hal-hal yang kecil,
” jelas pria yang akrab disapa Fadhil dalam diskusi di Cawang, Jaktim, Kamis (11/8/2016).

Dia membeberkan, sebagai perbandingan di Jepang saja dengan jumlah 23 juta penumpang perhari tidak ada kursi di peron

stasiun. Sedang di Indonesia, penumpang saja belum sampai 1 juta.

“Kita belum 1 juta saja sudah ribut kaya gini. Jadi harus fair lah lihatnya,” tambahnya.

Fadhil menyampaikan, dahulu saat awal e-ticketing diterapkan masyarakat juga ramai. Banyak yang menyoal. Tapi kini terasa hasilnya.

“Sekarang ada nggak yang ribut? Nggak. Vending machine pertama kami buat belum di-launching baru kita ngomong,

orang sudah pada ngomong itu nanti transaksinya 30 menit, loh nyoba saja belum sudah bilang 30 menit,
mesin saja belum saya taruh di stasiun. Nah maksud saya ayolah liat faktanya, jangan bermimpi sendiri karena menyesatkan nanti. Loh buktinya vending machine nggak ada problem sekarang,” urai dia.

“Bahkan banyak yang minta loket ditutup karena efisien. Nah tahun ini akan saya tambah 200 lagi.

Karena memodernisasi pelayanan itu harus dengan teknologi. Nah teknologi itu didukung infrastruktur.
Infrastukturnya apa, ya peron, kereta, pola operasi termasuk kursi. Kalau kursinya tetap kaya kemarin,
sementara orang duduk juga seenaknya itu kan menghambat flow.
Kalau penumpangnya banyak nanti orang mau bergerak gimana? akhirnya desak-desakan. Jadi filosofinya itu saja, sederhana kok,” tutup dia.
“Bahkan banyak yang minta loket ditutup karena efisien. Nah tahun ini akan saya tambah 200 lagi.
Karena memodernisasi pelayanan itu harus dengan teknologi. Nah teknologi itu didukung infrastruktur.
Infrastukturnya apa, ya peron, kereta, pola operasi termasuk kursi. Kalau kursinya tetap kaya kemarin,
Sumber : detik.com