Equityworld Futures – Pasangan muda-mudi di Bantaeng, Sulawesi Selatan,

menggebu-gebu ingin segera menikah. Namun, rencana baik pasangan itu mendapat tentangan dari berbagai pihak.

Berikut adalah fakta-fakta soal dua remaja yang kebelet nikah ini, dihimpun detikcom hingga Senin (16/4/2018).

1. Usia pasangan

Ketidak setujuan muncul karena usia pasangan tersebut masih belia. Usia si wanita baru menginjak 14 tahun, sedangkan si pria setahun lebih tua. Keduanya pun masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

2. Sempat ditolak KUA

Awalnya, permohonan nikah pasangan remaja ini ditolak oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bantaeng. Namun, keluarga dari masing-masing pihak bukannya mendukung keputusan KUA, malah sebaliknya.

3. Mahar tanah 500 meter persegi

Pihak keluarga malah mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama setempat. Bahkan, keluarga si pria sudah menyiapkan mahar berupa tanah seluas 500 meter persegi. Permohonan itu lalu dikabulkan, hingga akhirnya mendapat bimbingan perkawinan oleh pihak KUA Kecamatan Bantaeng pada Kamis (12/4/2018).

“Ya memang benar adanya. Saat digelar bimbingan, kedua calon pengantin ini juga ikut. Keluarga mereka mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama dan dikabulkan,” kata pejabat Humas Kantor Kementerian Agama Bantaeng Mahdi Bakri saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/4).

4. Takut tidur sendiri

Memasuki tahap bimbingan perkawinan mulai terkuak alasan dua remaja ini kebelet ingin mengarungi bahtera rumah tangga. Dari keterangan penghulu, remaja wanita mengaku kesepian, dan takut untuk tidur sendiri di rumah. Sebab sang ibu sudah meninggal dunia sedangkan ayahnya bekerja di luar kota.

“Alasannya sih begitu yah. Si wanita ini juga menurut keluarganya tidak ada tanda-tanda, berbadan dua atau pun dijodohkan. Mereka memang pacaran,” ujar Mahdi.

5. Usia minimal dan risiko pernikahan dini

Dalam UU Perkawinan, batas usia pria untuk bisa menikah minimal 18 tahun, sementara wanita minimal 16 tahun. Menurut Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Lenny Rosalin pernikahan usia dini akan mengancam pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Equityworld Futures

Equityword