Equityworld Futures – Video gradasi warna laut di Selat Madura viral di media sosial. Stasiun Meteologi Maritim Perak Surabaya menyebut fenomena itu adalah halocline. Apa kata pakar ilmu kelautan soal fenomena alam itu?

Pengajar Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Brawijaya Bambang Semedi Ph.D mengatakan, untuk menjelaskan kejadian alam terjadi di selat Madura itu, harus dilihat lebih seksama dahulu. Jika melihat sekilas dari video yang beredar, pada bagian air laut lebih keruh mengarah ke pesisir (daratan Surabaya) atau tengah (Madura) dan sebaliknya.

“Jadi harus dipahami lebih dahulu, bagian yang jernih di sebelah mana dan agak pekat di sisi mana dari video itu,” ungkap Bambang saat berbincang dengan detikcom, Kamis (20/3/2019).

Menurut Bambang, fenomena yang sama seringkali ditemui di wilayah lain, seperti Alaska, India, dan Brazil. Faktor penyebabnya adalah perbedaan densitas (massa jenis air) di perairan tersebut.

“Jadi ini bukan hal ekstra, jadi bisa terjadi di daerah-daerah tertentu. Sering kali bisa ditemui di Alaska contohnya. India dan Brazil juga pernah mengalami fenomena itu. Penyebabnya adalah perbedaan densitas air,” terang Bambang.

Bambang menilai penamaan fenomena yang direkam dari atas jembatan Suramadu itu, kurang tepat disebut halocline. Sebab, yang dimaksud halocline adalah perubahan kadar garam (salinitas) secara dratis pada degradasi (badan air) secara vertikal.

“Saya kira kurang tepat menyebutnya halocline, karena halocline adalah perubahan degradasi secara vertikal, kalau horisontal tidak. Dalam keilmuan ada termocline, halocline, dan pycnocline. Kalau halocline penurunan secara dratis untuk salinitas atau kadar keasinan di laut,” beber Bambang.

Dikatakan Bambang, fenomena itu bisa dilihat ketika siang hari. Pancaran sinar matahari akan memperjelas wilayah air yang densitasnya lebih tinggi. Densitas ini karena adanya temperatur atau suhu serta meningkatnya kadar garam, sehingga mengakibatkan warna air laut lebih pekat.

“Kalau biru lebih tua, sementara sisi lain dipengaruhi oleh meningkatkan debit air sungai yang bermuara ke selat Madura. Yang mempengaruhi kadar garam lebih rendah, sehingga warna air laut tidak sama,” ungkap dosen membidangi Lingkungan Laut dan Sumber Daya Sensing ini.

“Namanya apa? kita memang tidak punya spesifik nama seperti yang terjadi di Selat Madura. Tetapi sudah tersebut halocline, berarti bisa membedakan kadar garam (salinitas) yang berbeda. Tapi secara keilmuan kurang tepat,” sambung Bambang.

Ditambahkan Bambang, untuk daerah perairan yang tidak memiliki tingkat kekeruhan air tinggi, akan mudah membedakan. Contohnya di wilayah subtropis, warna air laut dengan kadar garam tinggi memiliki warna cukup pekat.

“Kalau di Alaska setiap saat terjadi, gletser yang mencair tidak bisa bertemu dengan perairan laut. Ada perbedaan yang mencolok. Bahkan yang di Brazil menjadi tempat wisata, karena kejadiannya terus menerus, karena permanen tak bisa bercampur,” tambah alumni Hokkaido University, Jepang ini.

Fenomena yang terjadi di Selat Madura, menurut Bambang sudah seringkali terjadi. Jika tengah menumpang pesawat terbang akan mudah melihatnya, pada siang hari.

“Jika kita berada di pesawat akan lebih jelas melihatnya, dan memang sejak dulu sering terjadi perbedaan warna, karena kadar garam itu,” tutupnya.

Equityworld Futures

Equityworld