Equityworld Futures

Kasubdit Perdata Mahkamah Agung (MA) Andri Tristianto Sutrisna bisnis dagang perkara di lembaganya.

Ia melakukan jual beli perkara dengan nilai uang lebih dari Rp 500 juta sekali transaksi. Hal itu mengundang kemarahan majelis hakim.

“Seandainya tidak kena OTT (operasi tangkap tangan-red), apa nggak merasa berdosa meminta uang?” tanya ketua majelis hakim Jhon Butarbutar dalam sidang dengan agenda pemeriksaan Andri di sidang PN Jakpus, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/7/2016).

“Saya merasa bersalah. Itu bukan tugas dan wewenang saya,” jawab Andri.

“Apalagi sudah gelar haji Pak, ya?! Kok ya tega! Ini bahan introspeksi diri, jangan terlalu tega sama orang. Ini azab dari Allah. Barang siapa yang menzalimi orang, akan dibalas sama Allah,” cetus hakim anggota lainnya.

Andri menjadi PNS di MA sejak tahun 1991. Setelah itu ia membeli rumah pertama di kawasan Karawaci dan pada 2012 membeli rumah mewah di kawasan Gading Serpong.

Rumah di Gading Serpong itu kini nilainya lebih dari Rp 2 miliar.
Selain itu, Andri mengaku memiliki empat mobil yaitu Mobilio, Altos, Juke dan Ford yang semuanya dibeli tunai.

“Rencananya rumah saya mau jual lagi. Orang tua saya kena stroke waktu itu, saya jadi tumpuan keluarga.

Saya bantu adik-adik saya dan orang tua,” ucap Andri membela diri.

Sebagaimana diketahui, kasus ini bermula saat pengusaha Ichsan Suadi dihukum 5 tahun penjara di tingkat kasasi.

Takut dijebloskan ke bui, Ichsan meminta Awang untuk menunda pengiriman berkas putusan tersebut. Dikontaklah Andri.
Tapi permintaan itu tidak gratis dan harus dikompensasi uang. Serah terima uang itu terendus KPK dan ditangkap pada 14 Februari 2016 lalu.
sumber : detik.com