IHSG Tembus 5.000, Dirut BEI Incar Kapitalisasi Pasar Rp 6.000 T Tahun Ini
Equityworld Futures -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menembus level 5.000.
Pada perdagangan sesi I, IHSG ditutup bertambah 26,284 poin (0,52%) ke 5.109,823.
Sementara indeks LQ45 ditutup menguat 4,393 poin (0,50%) ke 876.613.

Kenaikan IHSG ini menunjukkan adanya sinyal positif terhadap perekonomian Indonesia.

Kenaikan IHSG ini juga didukung sentimen positif atas undang-undang tax amnesty yang telah diresmikan.Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyebutkan, frekuensi perdagangan saham di BEI juga sempat melesat hingga 377.000 transaksi per hari.

Peningkatan ini naik cukup signifikan dibandingkan rata-rata frekuensi transaksi pada tahun lalu sebanyak 212.000 per hari.”Jadi saya sangat senang bahwa frekuensi sekarang naik jadi 377.000 kita jauh lebih besar dari pada negara tetangga.

Average kita tahun kemarin hanya 212.000 sekarang sudah di atas 240.000, bahkan 4 hari terakhir di atas 300.000 terus,” kata Tito saat ditemui detikFinance di kantornya, Jakarta, Kamis (14/7/2016).Selain itu, dengan adanya tambahan perusahaan publik yang akan mencatatkan namanya di BEI,

kapitalisasi pasar atau market capital dapat bertambah hingga Rp 6.000 triliun dari saat ini sebesar Rp 5.500 triliun.
Kenaikan tingkat kapitalisasi pasar di BEI juga akan mempengaruhi besaran IHSG.”Menurut saya dengan tambahan listing sekitar 20 emiten lebih tahun ini lagi,

itu market capital kita bisa bertambah ke Rp 6.000 triliun. Karena kalau market capital Rp 6.000 triliun maka pasar kita membesar, potensi naik, kalau pasar naik, frekuensi juga naik.
Indeks adalah dampak dari itu semua,” jelas Tito.Selain frekuensi yang meningkat tajam, nilai transaksi juga naik tinggi, mencapai Rp 7 triliun per hari.

Ini juga menunjukkan bahwa investasi di BEI cukup aman. Para investor asing berani menanamkan modalnya
lewat saham dan terbukti saat keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa atau British Exit (Brexit), pasar modal Indonesia tidak terlalu terpengaruh.”Karena mereka melihat seperti contoh Brexit semua jual di hari pertama.

Saat Brexit, indeks turun 2% tapi asing nett buy. Nggak ada dampaknya ke Indonesia kok,
naik lagi hasilnya nett buy. Artinya asing percaya di sini,” tutur Tito.
Sumber : Detik.com