Gresik -Presiden Jokowi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meresmikan Program “Penciptaan Lapangan Kerja Melalui Sinergi Investasi dan Pesantren” Gresik, Jawa Timur. Alasannya dipilihnya pesantren sebagai mitra pendukung realisasi investasi karena pesantren sebagai penyedia dari sumber daya dari investasi.

Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan BKPM sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap investasi langsung di Indonesia, berkeinginan agar investasi tidak memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

“Investasi juga harus mampu menyentuh langsung dan berperan dalam mensejahterakan masyarakat, atau kami menyebutnya sebagai “Investasi
untuk Rakyat,” kata Franky dalam saat peluncuran acara di kawasan industri JIIPE, Gresik, Jawa Timur, Rabu (11/11/2015).

Ia mengatakan “Investasi untuk Rakyat” diwujudkan dalam dua program, antara lain:

Pertama, “Program Investasi Padat Karya Menciptakan Lapangan Kerja” yang telah diluncurkan oleh Bapak Presiden, di Balaraja, Tangerang, Banten, 5 Oktober yang lalu.

Kedua, “Program Penciptaan Lapangan Kerja Melalui Sinergi Investasi dengan Pondok Pesantren”.

“Program Sinergi Investasi dengan Lembaga Pendidikan di Bawah Koordinasi Kementerian Agama,” katanya.

BKPM menginisiasi sinergi antara investasi dengan pondok pesantren melalui penandatanganan MoU dengan Kementerian Agama pada 23 Agustus 2015 tentang peningkatan kapasitas SDM, penyerapan tenaga kerja kalangan santri, dan kemitraan antara investor dengan lembaga pendidikan di bawah koordinasi Kementerian Agama.

“Program ini merupakan tindak lanjut dari penandatangan MoU tersebut. Peluncuran program ini bertepatan dengan momentum penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri untuk menghormati jasa besar para santri dalam perjuangan kemerdekaan,” kata Franky.

Franky optimistis pesantren dapat menjadi sumber penyedia SDM berkualitas untuk memenuhi kebutuhan investasi yang terus tumbuh di Indonesia. Ia mencontohkan Pondok Pesantren Qomarudin di Gresik yang sudah lama berdiri, telah menghasilkan lulusan berkualitas yang berkiprah untuk masyarakat luas.

Berdasarkan Kementerian Agama, pada tahun 2013-2014 terdapat 9,1 juta siswa/santri di pendidikan menengah di bawah naungan Kementerian
Agama.

Di Pulau Jawa, terdapat 5.595 proyek investasi yang akan konstruksi dan berpotensi menyerap 430.400 tenaga kerja langsung. Total rencana investasi proyek-proyek tersebut mencapai Rp 993 triliun.

Menurut Franky, saat ini program Sinergi Investasi dengan Pondok Pesantren melibatkan tiga perusahaan, dua pesantren, dan tujuh madrasah aliyah Program ini dikembangkan di tiga kabupaten, yaitu di Gresik, Jawa Timur, Boyolali, Jawa Tengah, dan Majalengka, Jawa Barat.

“Kami memilih lokasi peluncuran program ini di Jawa Timur, atas dasar Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah santri terbanyak di Indonesia, yaitu mencapai 70% dari total santri Indonesia,” kata Franky.

Selain itu, terdapat juga program SMK Mini di Jawa Timur, yaitu santri yang akan lulus pendidikan tingkat menengah memperoleh keterampilan SMK selama enam bulan. Program ini melibatkan tiga perusahaan dengan potensi total penyerapan tenaga kerja mencapai 21.741 orang.

“Di sisi lembaga pendidikan, terdapat dua pesantren dan tujuh madrasah aliyah yang ikut berpartisipasi dengan jumlah santri sekitar 7.000 orang,” katanya.

Beberapa perusahaan yang sudah bekerjasama dengan pesantren, antaralain:

Pertama, Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE) dengan
Pondok Pesantren Qomarudin Gresik. Sinergi JIIPE dan Ponpes Qomarudin dalam bentuk peningkatan kapasitas SDM santri melalui pendirian Balai Latihan Kerja sehingga dapat memenuhi kebutuhan sekitar 60 ribu tenaga kerja untuk semua tenant yang ada di kawasan industri JIIPE.

Kedua, PT Eco Smart dengan tujuh Madrasah Aliyah di Boyolali, yaitu: Madrasah Aliyah Negeri 1 Boyolali, Madrasah Aliyah Negeri 2 Simo, Madrasah Aliyah Muhamadiyah Sumber, Madrasah Aliyah Negeri Karanggede, Madrasah Aliyah Al Azhar Andong, Madrasah Aliyah Ma’arif NU Boyolali, dan Madrasah Al Hikmah Boyolali.Sinergi PT Eco Smart dengan tujuh Madrasah Aliyah di Boyolali dalam bentuk program perekrutan dan pelatihan tenaga kerja.

Ketiga, PT Adis Dinamika dengan Pondok Pesantren Mamba’ul Huda. Santri Ponpes Mamba’ul Huda dapat mengikuti peningkatan kapasitas
SDM melalui program Balai Latihan Kerja yang dimiliki PT Adis untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perusahaan.

Franky mengatakan sinergi mencakup tiga bentuk: penyediaan SDM, rantai pasokan, dan pengembangan masyarakat, antaralain:

Pertama, penyediaan sumber daya manusia, sinergi ini diharapkan mampu menyediakan SDM yang siap dan terampil melalui balai latihan kerja, program magang, pelatihan, dan perekrutan tenaga kerja.

Bentuk sinergi akan dilakukan oleh JIIPE dengan Ponpes Qomaruddin di Gresik, PT Adis Dinamika Sentosa dengan Ponpes Mamba’ul Huda di
Majalengka, dan PT Eco Smart Garment Indonesia dengan beberapa Madrasah Aliyah di Boyolali.

Kedua, penyediaan rantai pasokan. Pondok pesantren dapat menyediakan bahan baku yang dibutuhkan oleh kegiatan investasi. Dengan kata lain, pondok pesantren menjadi mitra kerja investor.

Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah kerja sama industri gula dengan pondok pesantren yang memiliki perkebunan tebu melalui bantuan teknis hingga pesantren dapat memasok bahan baku bagi industri.

Ketiga, pengembangan masyarakat, Investor dapat mendorong potensi kewirausahaan dari pondok pesantren yang tidak selalu berhubungan dengan sektor usaha dari investasi tersebut.

Misalnya, rencana pemanfaatan pucuk tebu dari perkebunan atau industri gula sebagai pakan sapi perah yang diternak oleh masyarakat. Kemudian, hasil susu perah dapat dimanfaatkan oleh industri lainnya.