Pangkal Pinang -Kementerian ESDM akan lebih mengedepankan metode kemitraan dalam upaya menertibkan tambang-tambang timah ilegal di Pulau Bangka Provinsi Bangka Belitung. Kawasan ini merupakan salah satu penghasil timah terbesar di dunia.

Sebab, banyak penduduk Pulau Bangka yang menggantungkan hidup dari penambangan timah liar. Penambangan rakyat akan didorong untuk memenuhi aspek legalitas, baik dari sisi lingkungan maupun standar keselamatan kerja.

Saat ini banyak penambangan timah ilegal (peti) apung alias peti yang dilakukan di lepas pantai menggunakan kapal-kapal hisap‎ di wilayah milik BUMN PT Timah. Nantinya penambang rakyat tetap bisa menjalankan kegiatannya di wilayah PT Timah asalkan memenuhi standar keselamatan dan memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Kegiatan penambangan tetap bisa dilakukan di wilayah PT Timah, dengan menggunakan alat yang memperhatikan keselamatan dan lingkungan,” ujar Dirjen Mineal dan Batu Bara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Aryono, usai diskusi di Kantor Pusat PT Timah, Pangkal Pinang, Bangka, Sabtu (7/11/2015).

Ia menambahkan, PT Timah akan menjadi ‘Bapak Angkat’ para penambang rakyat. Setelah legal, penambangan rakyat yang beroperasi di wilayah PT Timah akan menjadi mitra PT Timah. Hasil penambangan mereka dijual ke PT Timah dengan perantara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Mereka tidak bisa menjual langsung ke PT Timah karena BUMN dilarang melakukan kerjasama dengan perorangan, harus dengan badan usaha.

“Hasilnya (penambangan rakyat) akan dibeli PT Timah melalui BUMD. Jadi dia boleh menambang di wilayah PT Timah, nanti hasilnya dibeli oleh ‘Bapak Angkat-nya’ yaitu PT Timah,” kata Bambang.

Sebagai informasi, ‎berdasarkan data International Technologi Research Institute (ITRI) total produksi timah Indonesia sepanjang 2008-2013 mencapai 593.304 ton. Dari total produksi tersebut, sebanyak 352.000 ton diantaranya berasal dari tambang timah ilegal, termasuk penambangan rakyat.

Dengan asumsi harga biji timah US$ 15.000/ton dan kurs‎ dolar Rp 11.000, maka total kehilangan pendapatan negara dalam kurun waktu tersebut mencapai Rp 58,08 triliun atau hampir Rp 12 triliun setiap tahun. Kerugian ini terutama terjadi di Pulau Bangka yang merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia. Kawasan ini ini juga menjadi salah satu sumber timah terbesar di dunia.

sumber : detik.com