Jakarta -Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR hari ini, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mempromosikan potensi keuntungan yang bisa diperoleh dari investasi saham. Menurutnya, lebih baik membeli saham di pasar modal daripada menyimpan uang di deposito bank.

“Pasar modal adalah sarana investasi yang sangat cocok untuk jangka panjang. ‎Return (mbal hasil) tahunan saham lebih besar daripada deposito,” kata Tito dalam rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Tito memberikan gambaran, rata-rata keuntungan yang diperoleh dar‎I deposito bank dalam jangka waktu 5 tahun hanya 6,39% dan 7,44% dalam 10 tahun. Sementara rata-rata return tahunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 5 tahun mencapai 16,72% dan 24,35% dalam 10 tahun, 3 kali lipat deposito.

Contoh lainnya, saham PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII) return tahunannya rata-rata 18,85% dalam 5 tahun dan 39,58% dalam 10 tahun. Saham BRI (BBRI) mencapai 26,75% dalam 5 tahun dan 28,2% dalam 10 tahun. Saham Unilever (UNVR) return-nya rata-rata 24,62‎% dalam 5 tahun, 26,65% dalam 10 tahun.

Tito menambahkan, saham Unilever di Indonesia naik lebih dari 1.000 kali lipat dalam 23 tahun. Ketika mulai Initial Public Offering (IPO) pada 1982, kapitalisasi pasar Unilever masih Rp 29,21 miliar. Saat itu Unilever melepas 9,2 juta lembar saham dengan harga IPO Rp 30 per lembar.

“Sekarang kapitalisasi pasar Unilever Rp 298,33 triliun per 18 September 2015. Harga sahamnya saat ini Rp 39.100 per lembar, sudah naik lebih dari 1.000 kali lipat,”‎ ucapnya.

Tetapi meski memiliki potensi keuntungan ‎besar, sangat sedikit orang Indonesia yang mau berinvestasi saham. Menurut data BEI, jumlah investor di pasar modal Indonesia baru 407.000 orang dari total populasi 250 juta penduduk.

Dari 407.000 investor itu, hanya kurang lebih 25.000 yang merupakan investor aktif alias cuma 0,01 persen penduduk Indonesia.

Jumlah penduduk yang bertransaksi di bursa ini tergolong minim jika dibanding negara tetangga yang lebih kecil seperi Malaysia dan Thailand.‎

“Thailand yang penduduknya 67 juta, investornya di pasar modal 974.000, yang aktif 253.000,” ungkap Tito.

Karena itu, BEI melakukan berbagai cara untuk menarik masyarakat Indonesia supaya lebih banyak berinvestasi saham di bursa. Caranya dengan meningkatkan reputasi bursa efek, optimalisasi informasi kebursaan, penguatan infrastruktur, pengembangan produk, membuat aturan yang kondusif, dan sebagainya.

“Kami ingin BEI menjadi sarana pemerataan (kesejahteraan) melalui kepemilikan‎ saham,” tutup Tito.

 

Sumber: Detik.com