Jejak Pelarian Santoso, dari Tentena hingga Diduga Tewas di Tambarana
Equityworld Futures – Tim Satuan Tugas Operasi Tinombala gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI Senin
(18/7/2016) kemarin berhasil melumpuhkan dua terduga teroris dalam baku tembak di Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara,
Poso, Sulawesi Tengah. Satu di antara yang tewas diduga adalah Santoso alias Abu Wardah alias Komandan alias Kombes.

Seperti apa profil Santoso yang kemudian jadi buron nomor wahid yang diburu 3.000 prajurit TNI-Polri itu?

Santoso alias Abu Wardah alias Bos alias Komandan alias Kombes lahir di Tentena (Poso), 21 Agustus 1976. Dia menghabiskan masa kecil di Tentena hingga tamat Sekolah Menengah Pertama pada 1992. Pada April 2016 lalu, detikcom menelusuri Tentena
untuk mencari jejak Santoso.

Namun tak ada yang bisa mengetahui perjalanan Santoso selepas menyelesaikan pendidikan SMP. Keterangan tentang sosok

Santoso detikcom dapat dari seorang pedagang warung nasi di Palu, Sulawesi Tengah. Pedagang yang tak mau disebutkan
namanya itu mengaku pindahan dari Pasar Tentena.

“Kebetulan ibunya Santoso itu tukang pijat bayi, anak saya pernah dipijat sama dia,” kata pedagang tersebut kepada detikcom

di Palu, Senin 4 April 2016.

Santoso dan keluarganya, kata dia, pindah dari Tentena setelah meletus kerusuhan pada kurun waktu 1996-1997. Namun dia

tak bisa memastikan ke mana keluarga Santoso pergi.

Penelusuran detikcom selanjutnya menemukan bahwa setelah meletus kerusuhan di Tentena, Santoso pindah ke Dusun Bakti

Agung, Desa Tambarana Trans, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso. Di sinilah kemudian Santoso menemukan
Warni, tambatan hatinya yang dia nikahi pada tahun 1998.

Sejak itulah Santoso menetap dan tinggal bersama istrinya di Bakti Agung. Santoso tak pernah menunjukkan perilaku aneh atau mencurigakan.

Sekretaris Desa Tambarana Trans, Eko Prabowo, mengatakan hubungan Santoso dengan warga baik. Dia rajin ikut kerja bakti

dan rukun kampung. “Hubungan (Santoso) dengan masyarakat baik, ibadah juga biasa saja. Makanya kami heran, kok bisa ya
(mendalangi aksi teror). Kami juga heran,” kata Eko Prabowo saat berbincang dengan detikcom, Kamis (7/4/2016).

Ilmu agama dan ibadahnya pun terbilang biasa saja. Dia juga tak menunjukkan bakat sebagai seorang pemimpin. Di Tambarana,

Santoso mencari nafkah dengan berjualan buku keliling, sayur, buah-buahan dan terkadang menjadi buruh bangunan.