Jakarta -Sudah sejak lama, Indonesia membuat sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK), namun sampai sekarang tidak berkembang. KEK dengan berbagai insentif yang ditawarkan di dalamnya kalah saing dengan negara tetangga, seperti Singapura.

Komisaris Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono mengatakan, pemerintah Indonesia harus belajar dari Singapura dalam membuat KEK. Sehingga bisa menarik investor masuk.

“Singapura itu dikelola secara bagus untuk mengundang investor. Seperti mal yang dikelola bagus, dan membuat tenant tenang. Di Singapura kan kawasan ekonominya dibuat sesuai keinginan investor. Mata uangnya stabil, pajaknya jelas, dan ada pendukungnya, seperti tenaga kerja dan infrastruktur,” papar Darmono dalam diskusi ‘Kawasan Ekonomi Khusus dan Strategis’ di kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta, Selasa (1/9/2015)

Sementara di Indonesia, wilayah sekitar KEK yang dibuat oleh pemerintah tidak mendukung. Daftar KEK di Indonesia antara lain adalah:

  • Sei Mangkei (Sumatera)
  • Tanjung Api-api (Sumatera)
  • Tanjung Lesung (Banten)
  • Mandalika (Lombok)
  • Maloy Batuta Trans Kalimantan
  • Palu (Sulawesi)
  • Bitung (Sulawesi)
  • Morotai (Maluku)

“Coba lihat KEK Morotai, penduduknya hanya 50.000, pendidikan di sana masih rendah, penduduk belum cukup, jauh dari pasar, infrastruktur belum banyak, listrik, penerbangan ke sana sangat terbatas. Hanya 3 kali satu minggu, itu juga nggak pasti,” kata Darmono.

Menurutnya, sayang bila KEK dibangun hampir sekitar triliun rupiah namun tidak berkembang, dan tidak membuat banyak investor masuk. Darmono mencontohkan, jarak Taipei-Morotai sama dengan Jakarta-Taipei, namun Morotai belum menarik untuk investasi ketimbang Jakarta.

“Nah agar orang mau investasi di sana apa keuntungannya? Harus bedalah insentif yang diberikan. Kalau insentifnya tidak jauh beda atau sama dengan kita investasi di Jakarta yah mending orang investasi di Jabotabek,” jelas Darmono.

sumber : detik.com