Equityworld Futures – Istilah sapi ‘makan’ sapi benar-benar terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Warga terpaksa menjual sebagian ternak untuk modal mencukupi kebutuhan pakan bagi ternak lainnya.

Hal tersebut seperti dialami warga di Desa Sangup, Kecamatan Tamansari. Musim kemarau panjang saat ini semakin dirasakan warga. Tak hanya kesulitan air bersih, tetapi juga kebutuhan hijauan untuk pakan ternak sapi perahnya.

“Saya sudah menjual cilikan (pedet), untuk membeli pakan bagi sapi-sapi yang besar,” kata Gondo, warga Dukuh Sudimoro, Desa Sangup saat ditemui di kampungnya, Rabu (2/10/2019).

Gondo mengaku terpaksa menjual anak sapi miliknya. Pasalnya dari hasil susu perahnya tidak mencukupi untuk pembelian komponen pakan ternak saat ini. Mulai dari air, pakan hijauan dan campuran untuk ngombor atau memberi minum sapi, semuanya bisa diperoleh dengan merogoh kocek.

Gondo mengaku memiliki 12 ekor sapi perah dan 6 ekor pedet. Untuk kebutuhan pakan setiap hari mencapai Rp 400 ribu. Dari 12 ekor tersebut, 6 ekor di antaranya saat ini masih diperah susunya. Sedangkan lainnya tidak karena ada yang sedang bunting.

Dari 6 ekor sapi yang diperah, kata Gondo, produksi susunya sekitar 75-85 liter per hari. Harga susu per liter Rp 5.000. Sedangkan harga air bersih di dukuh paling atas di lereng Gunung Merapai sisi timur itu mencapai Rp 300 ribu/tangki.

“Satu tangki (6.000 liter) tidak sampai 10 hari sudah habis,” jelasnya.

Air bersih selain untuk kebutuhan pakan ternaknya juga digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Senada warga lainnya, Naryo, mengemukakan sebagian warga di musim kemarau ini terpaksa mengurangi hewan ternaknya. Uang hasil jual ternak tersebut antara lain juga untuk membeli pakan bagi ternak sapi yang masih dipelihara. Di musim kemarau ini semuanya harus beli, termasuk rumput, karena rumput di ladang maupun di hutan semua mengering.

“Ya terpaksa dikurangi untuk ngopeni sapi lainnya. Karena saat ini tidak ada pendapatan dari pertanian. Andalan di musim kemarau hanya tembakau dan cabe, sekarang sudah habis. Tanaman sayuran nggak ada, kalah sama monyet,” imbuh dia.

Warga Sudimoro lainnya, Pomo, juga mengaku sudah menjual sebagian hewan ternaknya. Dia menjual ternak sapi penggemukan, kemudian dibelikan yang kecil. Sisanya untuk membeli pakan ternak bagi sapi-sapi yang masih dipelihara.