1718028googleglass1780x390Sempat membuat heboh ketika diluncurkan pada 2012, nasib kacamata pintar Google Glass berubah jadi tidak jelas semenjak penjualannya dihentikan oleh pembuatnya pada 19 Januari lalu.

Apa yang menjadi alasan di balik keputusan Google tersebut? Rupanya Glass terlalu banyak “menyedot perhatian” sehingga membuat publik mengira bahwa ia adalah produk final.

Perhatian publik yang prematur itu dinilai bepengaruh negatif terhadap si kacamata pintar yang sebenarnya masih dalam tahap purwarupa untuk pengembangan lebih lanjut .

“Kami membiarkan, dan kadang mendorong sehingga terlalu banyak perhatian tercurah ke program ini,” kata Kepala Google X, Astro Teller dalam sebuah sesi di konferensi SXSW 2015, sebagaimana dikutip KompasTekno dari Business Insider (18/3/2015).

“Kami juga membuat orang-orang berpikir bahwa ini (Google Glass) adalah produk yang sudah selesai dikembangkan,” tambah Teller.

Google Glass sendiri sudah ramai memicu kontroversi sejak pertama kali dilepas ke para peserta program “Glass Explorers” yang berperan sebagai penguji atau beta tester dari kacamata pintar itu.

Resistensi muncul dari sebagian orang karena perangkat yang turut dibekali kamera tersebut bisa dipakai untuk mengambil gambar secara diam-diam. Harga Glass versi purwarupa ini juga terbilang mahal, mencapai kisaran 1.500 dollar sehingga pemiliknya kerap diidentikkan sebagai kaum geek berduit.

Akhirnya, awal tahun ini Google memutuskan untuk “menghentikan sementara” dan “meninjau ulang” strategi yang diterapkan untuk Glass.

Kendati demikian, Google berjanji kelak bakal tetap meluncurkan Glass ke pasaran, suatu saat nanti. Kegagalan yang dialami Google dalam proyek ini pun disebut Teller memberikan pelajaran berharga soal masa depan Glass dan perangkat wearable secara umum.

“Gagal bukan berarti tidak akan sukses,” kata Teller. “Justru karena itu kami bisa melangkah maju dengan lebih cerdas.”

Sumber : Kompas.com