Jakarta -Yunani masih bergelut dalam utang, pasca krisis yang menghantamnya. Pada 30 Juni 2015, negara ini harus membayar utang 1,54 miliar euro (US$ 1,7 miliar) atau sekitar Rp 22 triliun dari International Monetary Fund (IMF).

Negara para dewa ini tidak punya uang untuk membayar utang tersebut. Yunani harus menarik utang baru, guna menutup utang jatuh tempo. Sudah ada kreditur yang siap memberi utang, namun ada syarat yang ditetapkan. Pemerintah Yunani belum menyetujui syarat tersebut.

Kreditur siap memberikan pinjaman 7,2 miliar euro, bila pemerintah Yunani menyetujui melakukan reformasi ekonomi dan penghematan anggaran. Namun pemerintah Yunani tidak sepakat.

Para menteri keuangan di Eropa akan mencoba membujuk Yunani. Waktu bagi negara ini makin sempit.

“Akan makin sulit untuk mencapai kesepakatan, dan sulit bagi Eropa bila Yunani tidak sepakat,” kata ekonom dari Berenberg Bank, Holger Schmieding dilansir dari CNN, Selasa (16/6/2015).

Keadaan ekonomi bisa kacau bila bank-bank di Yunani tidak punya uang akibat tidak adanya kesepakatan. Bursa saham negara ini sudah jatuh, yield (imbal hasil) surat utang obligasinya juga naik di atas 12%.

Kekhawatiran Yunani ini menjadi fokus investor saham, hingga Amerika Serikat (AS). Pemerintah Yunani menolak permintaan kreditur utang untuk memangkas uang pensiun pegawai pemerintah, dan meningkatkan pajak penjualan.

Para pemimpin Eropa kehilangan kesabarannya terhadap Yunani. Kreditur utang Yunani, yaitu IMF, bank sentral Eropa, dan pemerintah beberapa negara di Eropa, kesal dengan sikap Yunani.

“Awas, kami saat ini mengejar waktu, dan bisa terjadi guncangan bila kesepakatan tidak terjadi,” kata Presiden Prancis, Francois Hollande.

Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi mengatakna, bola sekarang berada di tangan pemerintah Yunani.

 

sumber : http://finance.detik.com/read/2015/06/17/070332/2944345/4/negara-ini-bingung-bayar-utang-imf-rp-22-triliun?f9911013