Equityworld futures-PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) punya strategi sendiri untuk merespons perlambatan ekonomi yang diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir tahun ini. Caranya adalah dengan melakukan pencadangan pendapatan perusahaan.

“Sepanjang tahun kami merencanakan pencadangan sebesar 140% (dari pendapatan perusahaan). Sampai Maret, kami sudah melakukan pencadangan sebesar 130%,” ujar Direktur Utama Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Pencadangan ini, kata dia, akan digunakan perusahaan untuk mengatasi potensi terjadinya kredit bermasalah alias Non Performing Loan (NPL).

“Ketika ada potensi NPL sebelum jadi macet, kita tanggulangin dulu dengan dana ini. Jadi jangan sampai macet,” sambung dia.

Kondisi ini berimbas pada perolehan laba bersih dalam periode Januari-Maret 2016 yang hanya Rp 3,8 triliun atau turun 25,7% dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Hal itu membuat laba turun. Tahun lalu kami mencetak laba bersih Rp 5,1 triliun,” tutur dia.

Lebih jauh ia memaparkan, perolehan pendapatan bunga bersih pada periode Januari-Maret 2016 sebenarnya tumbuh cukup positif. Tercatat mencapai Rp 12,33 triliun, atau tumbuh 20,1% jika dibandingkan perolehan di periode sama tahun sebelumnya Rp 10,26 triliun.

Hasil tersebut didorong oleh meningkatnya penyaluran kredit sampai dengan Maret 2016 sebesar 7,9% dari Rp 532,8 triliun menjadi Rp 574,7 triliun.

Sementara dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 4,2% atau mencapai Rp 655,1 triliuun. Sebelumnya di periode sama tahun lalu hanya Rp 628,7 ttriliun.

Untuk itu, ia optimistis, kinerja perusahaan akan kembali membaik hingga akhir tahun.

“Jadi kita optimistis sampai akhir tahun ini kinerja kita masih akan meningkat,” pungkas dia.

 

 

Sumber: Detik.com