Jakarta -PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berniat membereskan utang yang belum dibayar US$ 3,984 miliar atau sekitar Rp 55,8 triliun (kurs Rp 14.000/dolar AS). Perusahaan tambang Grup Bakrie ini berniat meminta restu ke pemegang saham.

“Ada rencana restructuring kita sedang finalisasi. Mudah-mudahan bulan ini, ada principal agreement, ada shareholder agreement,” kata Direktur Keuangan BUMI, Andrew C. Beckham, usai Public Expose di Epiwalk, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2015).

Perusahaan tambang dengan cadangan batu bara terbesar di Indonesia itu, akan merestrukturisasi dan mengkonversi sebagian utangnya menjadi saham.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Fasilitas bergaransi senior baru US$ 1,2 miliar. Dua trance utang yang sama (tidak termasuk obligasi konversi Castleford) dilunasi dalam waktu 5 tahun, bunganya 6-9% per tahun.
  • Konversi saham US$ 1,495 miliar. Konversi utang menjadi 32,5% saham di Bumi Resources dengan valuasi ekuitas tersirat sebesar US$ 4,6 miliar.
  • Fasilitas CIC/CDB US$ 630 juta. Konversi utang menjadi saham di perusahaan tertutup tertentu di Grup Bumi.
  • Fasilitas CIC US$ 150 juta. Konversi utang menjadi saham Bumi dengan harga sebesar Rp 250 per saham dengan transaksi CIC.
  • Fasilitas AXIS Bank US$ 141 juta. Sebanyak US$ 100 juta dilunasi melalui penjualan PT Fajar Bumi Sakti (FBS), dan sisa utang US$ 41 juta diperlakukan setara.
  • Obligasi Konversi Enercoal US$ 410 juta. Konversi menjadi Obligasi Wajib Konversi, yang wajib dikonversi menjadi saham Bumi dalam waktu 5 tahun.

Kreditur bisa mendapatkan saham di BUMI atau di salah satu anak usahanya yang merupakan perusahaan tertutup.

“Nanti yang utang itu akan ditawarkan untuk punya saham di anak usaha BUMI. Akan dikonversi utang ke saham di anak usaha,” ujarnya.

 

sumber : detik.com