Equity World Futures – Tradisi turun-temurun kerajinan atap nipah di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), terancam punah.

Selain tak miliki regenerasi produksi, atap nipah ini kalah bersaing dengan atap seng pabrikan.

Menurut salah seorang pengrajin atap nipah di Kumai, Hatiah (68), sudah puluhan tahun dirinya menggeluti kerajinan atap nipah ini. Ilmu dalam merangkai daun nipah menjadi atap ini didapat dari orangtuanya.

Namun, saat ini tidak ada anak muda yang mau menggeluti kerajinan atap nipah. Alasannya klasik, bayaran untuk pembuatan atan nipah sangat kecil. Setiap lembar atap nipah, diupah dengan harga Rp100.

Paling banyak, dalam sehari hanya dapat 100 lembar atap nipah. Artinya, pendapatan maksimal pengrajin atap nipah hanya Rp10 ribu.

“Susah. Kamu lihat sendiri. Mana ada anak muda zaman sekarang yang mau mengolah nipah. Gengsi katanya,” ujar perempuan berstatus janda ini.

Pengrajin lainnya, Lilis (52) mengatakan, kebutuhan akan atap nipah semakin menurun. Pasalnya, atap nipah kalah bersaing dengan atap multiroof. Saat ini, kata dia, atap nipah digunakan warga untuk membuat kandang unggas.

“Untuk saung-saungan. Atau biasanya untuk kandang ayam. Kalau dulu kan rumah juga pakai atap nipah. Sekarang mana ada. Pakai multiroof semua,” katanya.

Dia menerangkan, atap nipah bisa bertahan maksimal 3 tahun pakai. Sedangkan seng pabrikan lebih tahan lama. Meski begitu, dia yakin permintaan masyarakat terhadap atap nipah bakal kembali meningkat.

Meski kalah dari sisi ketahanan dengan seng pabrikan, sebagian masyarakat masih memilih atap nipah karena memiliki ciri khas.

“Saya tetap yakin, bakal banyak permintaan terhadap atap nipah ini. Karena sekarang mulai ada masyarakat yang dalam membangun rumah pingin seperti kembali ke zaman dahulu,” pungkasnya.

Sumber : sindonews.com