Mempertanyakan Kontribusi Langsung Suporter kepada (Finansial) Kesebelasan
Equityworld Futures –

Jika Anda adalah seorang suporter kesebelasan sepakbola (pasti iya, lah, ya), pernahkah Anda berpikir:

sebenarnya apa, sih, kontribusi saya kepada kesebelasan kesayangan saya?

Ini bukan pertanyaan jebakan. Kita semua tahu suporter – bukan pemain, pelatih, atau pemilik kesebelasan

– adalah nyawa utama kesebelasan sepakbola. Tanpa suporter, maka tidak akan ada kesebelasan sepakbola.Seolah terbuai dengan pernyataan (yang bukan jawaban) di atas,

kita selalu merasa jemawa karena telah menjadi suporter kesebelasan sepakbola.

“Go ahead. Leave your life. Change your wife, change your politics, change your religion.
But never, never can you change your favorite football team.” ―Anonymous

Dalam sebuah kolom editorial di majalah FourFourTwo lawas (kalau saya tidak salah, sekitar pertengahan tahun 2010),

Simon Kuper pernah berujar bahwa kesebelasan-kesebelasan sepakbola sebenarnya seperti mayat hidup (zombie).”Apa pun yang Anda lakukan, Anda tak akan pernah bisa membunuh mereka (suporter).

Jangan biarkan mereka menentukan siapa yang musti diturunkan dan jangan jatuh cinta kepada mereka,” tulis Kuper.Kesebelasan sepakbola memang tidak bisa mati.

Sejujurnya memang mungkin kita tidak akan menemukan sebuah kekuatan tentang kesetiaan (yang kebanyakan adalah omong kosong)
yang lebih besar dari pada kesetiaan seorang suporter pada kesebelasan sepakbola idolanya.Masalah keuangan? Apakah itu akan mengganggu stabilitas sebuah kesebelasan sepakbola?

Mungkin jawabannya iya, tapi tidak dengan eksistensinya. Suporter adalah mereka yang akan tinggal dengan kesebelasan bagaimanapun nasib kesebelasan tersebut.Namun, perlu juga sikap yang proaktif dari para suporter untuk melindungi masa depan dari kesebelasan sepakbola mereka.

Kasus Portsmouth, AFC Wimbledon, SV Austria Salzburg, sampai Persebaya Surabaya adalah beberapa contoh dari kesebelasan yang eksistensinya terancam.

Alih-alih mati, kesebelasan sampai rela memotong gaji, terdegradasi,
berkompetisi di level yang lebih rendah, bahkan membuat “kesebelasan baru” melalui suporter mereka.
Bahkan belum lama ini, seorang bocah 12 tahun rela berangkat ke Jakarta dari Blitar hanya untuk memastikan tim kesayangannya, Persebaya Surabaya, bisa kembali ‘hidup’.Namun kembali, setelah semua kata-kata “romantis” di atas, saya akan kembali bertanya,

kali ini lebih spesifik: Apa kontribusi langsung suporter kepada finansial kesebelasan mereka?sumber : detik.com