Mesin Pemusnah Limbah Beracun Terbesar Bakal Ada di Karawang
Karawang -Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan (Aher) meresmikan pembangunan incinerator atau mesin pemusnah limbah ke-2 di Dawuan, Kabupaten Karawang. Mesin pemusnah limbah beracun tersebut memanfaatkan teknologi ramah lingkungan.

“Keberadaan tempat ini menjadi terbesar di Indonesia untuk pengelolaan limbah B3 atau limbah beracun,” kata Aher saat memberikan sambutan di area PT Jasa Medivest (Jamed), Jalan Inter Change Dawuan Tengah Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (25/8/2015).

Selain itu, peningkatan kapasitas mesin pemusnah limbah medis yang dilakukan PT Jamed ini sejalan dengan visi dan misi Jabar dalam masalah pelestarian lingkungan. Sehingga, hadirnya tempat ini bisa menyelesaikan persoalaan limbah medis di seluruh Jabar.

“Jabar merupakan perovinsi pertama menggunaan pengelolaan sampah modern di Indonesia,” ucap Aher.

PT Jamed salah satu anak perusahaan BUMD Jabar yaitu PT Jasa Sarana. PT Jamed yang berdiri sejak 2006 ini satu-satunya perusahaan pengelolaan limbah di Indonesia yang fokus pada jasa pengelolaan limbah medis seperti alat kesehatan bekas pakai, sisa laboratorium, obat kedaluwarsa, dan limbag kedokteran hewan.

Aher melakukan seremoni peletakan batu pertama pembangunan mesin pemusnah limbah kedua di atas lahan seluas 2,7 hektare. Turut hadir Plt Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, Dirut PT Jasa Sarana Soko Sandi Buwono dan PT Jamed Subagiyo.

PT Jasa Medivest (Jamed) melakukan pembangunan incinerator atau mesin pemusnah limbah medis kedua di kawasan Dawuan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Nilai investasi pembangunan teknologi tersebut mencapai miliaran rupiah.

“Untuk plan kedua ini investasinya Rp 50 miliar,” ucap Dirut PT Jasa Sarana Soko Sandi Buwono.

Pembangunan kedua tersebut berada di lahan seluas 2,7 hektare. Lokasinya berdekatan dengan incinerator pertama. “Jamed merupakan perusahaan yang saat ini tidak mempunyai utang bank,” kata Soko.

Butuh waktu pengerjaan selama delapan bulan untuk mendirikan mesin pemusnah limbah medis kedua ini. Rencananya tempat tersebut siap beroperasi pada Mei 2016.

Presiden Direktur PT Jamed Subagiyo mengatakan saat ini pihaknya hanya mampu menampung limbah medis sebanyak 12-15 ton perhari yang berasal dari sekitar 1900-an pelanggan penghasil limbah medis seperti rumah sakit, puskesmas dan klinik. Tahap pertama yang sudah dibangun pada 2009 menggunakan incinerator berbasis teknologi Stepped Heart Controlled Air dengan dua proses pembakaran.

“Dengan penambahan mesin baru ini, kami tentunya akan mampu melipat gandakan kapasitas tampung limbah medis para pelanggan kami asal Jawa Barat, Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Sulawesi Sejalan, dan Kalimantan Timur,” tutur Subagiyo.

Mesin pemusnah limbah ini dilengkapi ruang pembakaran bersuhu 1.000-1.100 derajat celcius dengan kontrol polusi udara. Mesin pembakarannya mampu menetralkan emisi gas buang sepertl partikel-partikel, acid gas, toxic metal, organic compound, CO serta dioxin dan furan sehingga gas buang yang dikeluarkan memenuhi parameter yang ditetapkan oleh KEP-03/BAPEDAL/09/1995 dan standar baku emisi internasional.

“Limbah medis tak bisa dimanfaatkan. Jadi harus dibakar habis. Contohnya jarum suntik dan potongan tubuh manusia (hasil amputasi) nantinya dibakar sehingga virus mati,” ujar Subagiyo.

sumber : detik.com