Jakarta

Barangkali kita kerap lengah ketika meninggalkan sebuah tempat kongkow bersama kolega atau keluarga. Kelengahan itu adalah lupa memberi ulasan (review) atas tempat yang baru saja dikunjungi. Sementara secara algoritmik, Google terus berupaya menarik perhatian kita dengan bertanya “how was bla bla bla?” dan tak lupa pula diminta untuk memberi rating berupa bintang.

Apa yang terjadi secara mekanik itu boleh jadi karena sangking umumnya notifikasi yang berseliweran di gawai kita, sehingga tidak semua kemudian serta merta menggubrisnya sebagai sesuatu yang mengandung makna, meski hanya sekadar mengklik bintang tanpa komentar apa-apa. Padahal, sebuah review singkat bisa membawa dampak sosial yang justru bisa menyasar banyak sisi terutama proses inklusi dan eksklusi sosial sekaligus.

Untuk saat ini, keterlibatan setiap pengguna telepon pintar dalam ranah digital umumnya turut membentuk berbagai normalitas baru. Artinya, sebagai sesuatu yang baru, ia tak ubahnya bangunan stigma atas aktivisme di luar unsur digital (online). Sehingga muaranya ada semacam dorongan untuk online public engagement bagi siapapun. Sementara nalar yang demikian kentara sekali mengabaikan keragaman dimensi sosial di samping kenyataan bahwa selera dan kepentingan setiap orang pasti berbeda.