Jakarta -Mungkinkah berkebun di lahan hanya 1×1 meter untuk menanam 90 tanaman? Jawabannya sangat mungkin, asalkan ada teknik khusus yang memungkinkan tanaman disusun di lahan sempat. Salah satunya adalah teknik susunan vertikultur atau bertanam ke atas.

Seorang produsen polimer sekaligus pengelola sebuah resort di Belitung membuat instalasi bertanam di lahan sempit.

“Sebetulnya saya usaha produksi polimer. Ada resort juga di Belitung yang konsepnya lokal wisdom. Jadi kita berusaha produksi sayuran segar sendiri di sana dengan tantangan lahan berpasir yang hanya bisa ditanami kangkung dan selada. Kita cari cara sampai bikin instalasi ini,” ungkap Albert Arron Pramono, pemilik Your Simple Garden Vegetable Market & Cafe dalam Pameran TradExpo di JIExpo Kemayoran pekan lalu.

Berawal dari ‘kepepet’ mengatasi tantangan lahan di Belitung, instalasi buatan Albert justru banyak peminat dan mulai banyak diproduksi. Di resortnya, Albert tidak lagi perlu membeli sayuran dari Jakarta dengan harga biaya tinggi.

“Sayuran-sayuran yang kita butuhkan di resort itu sayuran mahal. Kalau di Jakarta, jenis selada khusus yang kita butuhkan itu harganya Rp 30.000 per buah. Bawanya itu butuh Rp 10 juta hanya untuk satu sayur, itu per minggu. Perjalanan jauh dan kena panas. Paling dari 10 hanya 7 yang masih bagus,” terangnya.

Semula Albert hanya bisa menanam selada dan kangkung. Namun saat ini sudah bisa menanam banyak jenis tanaman.

“Sekarang tidak hanya selada dan kangkung sampai tanaman bunga pun bisa. Februari pertama kali kita pasang di resort. Kemudian uji coba terus sampai tiga kali. Awalnya saya belum mau jual. Ada dorongan dari komunitas organik juga. Akhirnya mulai satu bulan terakhir saya jualan instalasi ini,” jelasnya.

Meski mulai dijual baru satu bulan lalu, Albert sudah kebanjiran order.

“Animonya besar sekali. Semua mulai mencari produk sayur organik yang betul-betul organik dan ingin tanam sendiri. Tanaman organik itu tantangannya bagaimana bisa memindahkan itu ke kota. Sayur itu kalau sudah dipindahkan dari habitat semula, itu hanya mencoba bertahan hidup. Kaya orang masuk ICU,” ujarnya.

Ia menjelaskan, siklus dalam pertanaman tersebut dikenal dengan bio dynamic agriculture. Dengan memakai prinsip rantai makanan antara ikan dengan tanaman berbatang hijau tanpa memerlukan faktor eksternal seperti pemumpukan.

“Ini gabungan aeroponik (udara), hidroponik (air) sama minaponik (ikan) dalam bentuk pertanaman vertikultur atau ditata ke atas,” tambahnya.

Singkatnya, kata Albert, proses yang terjadi di dalam instalasi yaitu ikan menghasilkan kotoran. Kotoran ikan dibawa naik ke atas. Di atas ada saringan filter yang menahan sampai bakteri selesai proses penguraian menjadi zat yang diperlukan tanaman. Kotoran ikan turun dan diserap oleh akar tanaman.

Kemudian, lanjutnya, air mengalir seperti air terjun. Terjadi dua hal yaitu kotoran diserap akar dan air bertemu oksigen. Air mengalirkan oksigen tinggi yang baik untuk ikan.

“Hampir semua tanaman berbatang hijau dari sayuran, buah, tanaman herbal sampai bunga itu sudah dicoba dan bisa ditanam. Bisa buat tanam bunga itu unik karena banyak resort kesulitan mau tanam bunga—bunga hidup karena kondisi tanah nggak dingin,” jelasnya. Instalasi ini juga bisa ditanam di dalam ruangan menggunakan cahaya lampu LED.

Instalasi untuk bertanam di lahan sempit baik di kantor maupun di rumah ini ditawarkan dengan harga Rp 9 juta untuk instalasi dua tiang setinggi dua meter lengkap dengan bak kolam ikan, sudah dapat benih selada.

“Harganya Rp 9 juta. Bisa diisi 90 tanaman. Ukuran lebih kecil Rp 7,5 juta bisa muat 70 pohon. Sekali tanam bisa buat seterusnya panen berkali-kali. Waktu ngurusnya juga ngga perlu kan. Hanya butuh biaya listrik 100 watt. Hanya ganti pompa akuarium saja 3 tahun,” tambahnya.

Tidak hanya puas menyalurkan hobi bertanam selada, strawberry, hingga tanaman bunga. Hasil panen, menurut Albert, kualitasnya lebih bagus.

“Bisa coba bibit dari luar negeri, saya pun coba, udah pasti tumbuh. Bisa beli bibit bunga di puncak untuk ditanam di sini. Sayuran hasil kualktasnya lebih bagus,” jelasnya.

Kantor-kantor, ungkap Albert, juga banyak yang minat. “Karyawan bisa segar memandang hijau-hijau. Bisa dipanen sama karyawannya. Sebulan aja permintaan puluhan unit,” katanya.

sumber : detik.com