Equity World Futures – Finlandia pada masa jayanya bisa mempunyai sekitar 15 ribu orang pekerja di sektor teknologi. Namun kini mereka kekurangan pengembang software, sehingga ada ribuan posisi programer yang tak terisi.

Contohnya adalah Supercell, yang merupakan pembuat game Clash of Clans. “Kami ingin mempekerjakan pengembang game terbaik, namun tak semuanya bisa datang ke Finlandia,” ujar Ilkka Paananen, CEO Supercell.Hal ini terjadi karena kebijakan imigrasi yang menghambat datangnya para pekerja dari negara lain. Padahal terhambatnya pertumbuhan industri ini turut memperlambat perbaikan kondisi ekonomi di negara tersebut.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencari tempat tinggal dan izin kerja disebut mencapai 6 bulan. Lebih buruk lagi, bagi programer yang mempunyai pasangan, sangat besar kemungkinan pasangannya itu tak bisa mendapatkan izin tinggal di Finlandia.

Proses perizinan yang panjang itu disebut oleh Paananen membuat para calon karyawannya lebih memilih untuk bekerja di negara lain, seperti Silicon Valley di AS, Berlin ataupun Singapura, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (15/6/2016).

Ketidakmampuan Supercell dalam merekrut programer terbaik di dunia disebut oleh Paananen menjadi risiko terbesar dalam pertumbuhan perusahaannya. Supercell sendiri pada 2015 lalu bisa menghasilkan keuntungan sebesar USD 1 miliar dengan hanya 180 karyawan.

Secara total, industri teknologi di Finlandia saat ini mencari sekitar 7.000 programer. Kebutuhan ini berasal dari banyak startup, terutama yang bergerak di bidang pembuatan game mobile seperti Supercell dan Rovio.

Banyaknya lapangan kerja yang terisi ini tak serta merta bisa langsung diisi oleh eks karyawan Nokia. Startup yang ada saat ini di Finlandia biasanya enggan untuk mempekerjakan orang-orang yang pernah bekerja di perusahaan besar seperti Nokia, karena perusahaan besar seperti itu mempunyai organisasi yang jelas dan kemampuan kerja yang terlalu spesifik.

“Ini bukan masalah kemampuan, tapi lebih ke bagaimana mereka bisa cocok di tempat kerjanya. Bekerja di lingkungan startup yang cepat berubah sangat berbeda dengan bekerja di perusahaan besar,” ujar Micke Paqvalen CEO Kiosked, yang merupakan startup di bidang periklanan.

Sumber Detik.com