Jakarta -Perajin tempe tahu khususnya di Jabodetabek masih mengandalkan pasokan kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan produksinya yang mencapai 150.000 ton kedelai tiap bulan. Padahal perajin mengakui kualitas kedelai lokal lebih unggul dibanding kedelai impor dari sisi rasa, lebih legit dan segar.

Seandainya kebutuhan kedelai perajin tahu tempe sepenuhnya bisa dipenuhi dari dalam negeri pun perajin siap serap dan pakai kedelai lokal. Namun faktanya dari 2 juta ton impor kedelai per tahun, sebanyak 90% diserap oleh perajin tahu dan tempe.

“Kalau misal itu kedelai lokal sudah ada 2,5 juta ton ngga usah impor. Kita mau pake lokal,” jelas Ketua Gakoptindo Aip Syarifuddin ditemui di Kementerian Perindustrian, Senin (31/8/2015).

Kedelai lokal, menurutnya, punya beberapa keunggulan dibanding kedelai impor untuk dijadikan bahan baku tempe maupun tahu.

“Kedelai lokal kulitnya lebih tipis jadi kalau dimasak lebih cepat matang. Rasanya lebih fresh. Kedua dia punya aroma itu lebih harum. Rasanya lebih legit. Lalu kandungan air lebih banyak. Kalau dibikin tahu kedelai lokal jauh lebih bagus dibanding impor,” kata Syarifuddin.

Produksi kedelai lokal yang hanya berkisar 500-600 ribu ton per tahun belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan perajin. Selama mengandalkan kedelai impor, perajin tahu tempe perlu terus waspada dengan gejolak yang ada di pasar komoditas khususnya kedelai dunia. Hasil panen dan harga kedelai AS sangat memengaruhi pasokan dan harga kedelai impor di Indonesia.

Saat harga kedelai impor naik, perajin tidak bisa langsung menaikkan harga tempe dan tahu.

sumber : detik.com