mata-mataKOMPAS.com – Sekelompok peretas yang diduga kuat berasal dari Tiongkok sudah memata-matai negara-negara ASEAN selama satu dekade. Hal tersebut terungkap berdasarkan penelitian lembaga keamanan cyber FireEye.
FireEye, dalam penelitan yang dirilisnya Senin (13/4/2015), menyebut tindakan mata-mata ini sebagai Advance Persistent Threat 30 (APT30). Area yang jadi sasaran serangan cyber tersebut antara lain di Malaysia, Vietnam, Thailand, Nepal, Singapura dan Indonesia.
Target utama serangan cyber ini adalah lembaga pemerintah dan bisnis yang memegang peran utama dalam kegiatan politik, ekonomi, serta militer di wilayah masing-masing. Diantaranya adalah perusahaan-perusahaan Asia Tenggara atau India yang bergerak di bidang konstruksi, energi, transportasi, telekomunikasi dan penerbangan.

“Tindakan peretasan jangka panjang dan terencana ditambah lagi dengan adanya tujuan serta misi regional, membuat kami yakin bahwa kelompok tersebut disponsori oleh negara tertentu. Kemungkinan besar itu adalah pemerintah Tiongkok,” tulis Chief Technology Officer for Asia Pacific, FireEye, Bryce Roland dalam laporannya seperti dikutip KompasTekno dari Reuters.

Selain itu, Roland juga mengklaim bahwa serangan tersebut masih terjadi. Server milik kelompok peretas itu masih aktif dan FireEye pun masih menemukan adanya serangan pada beberapa pelanggan mereka, yang termasuk salah satu target.

Tiongkok membantah

Tiongkok sendiri membantah laporan FireEye mengenai keterlibatannya dalam peretasan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hong Lei mengatakan bahwa pemerintahnya konsisten melarang dan menghentikan tindakan peretasan.

“Saya ingin menekankan bahwa Tiongkok telah melarang dan menghentikan segala tindakan peretasan. Sikap kami konsisten dan jelas. Peretasan adalah masalah bersama bagi masyarakat internasional dan lebih baik ditangani dengan kerjasama ketimbang saling mengecam,” ujarnya kepada Reuters.

Sebelumnya, Tiongkok sudah pernah menerima tudingan aktivitas mata-mata cyber serupa pada 2011 silam. Penyebabnya adalah penelitian dari McAfee mengungkap sebuah proyek bernama Shady Rat yang menyerang institusi pemerintah di Asia.