Equityworld Futures – Dari hasil survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),

tingkat elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo Subianto. Peta dukungan keduanya pun menarik disimak.

Berdasarkan survei LIPI, elektabilitas Jokowi pada pertanyaan terbuka mencapai 46 persen, sedang Prabowo sekitar 17 persen. Survei digelar pada 19 April-5 Mei 2018 dengan melibatkan 2.100 responden. Margin of error (MoE) survei sebesar +/- 2,14 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam paparan hasil survei LIPI di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (19/7/2018), juga terlihat sebagian pemilih partai-partai yang berada di dalam pemerintahan Jokowi-JK saat ini memilih Jokowi dibandingkan Prabowo Subianto sebagai calon presiden, kecuali dalam kasus Partai Hanura. Kurang dari setengah dari pemilih PAN yang memilih Jokowi sebagai calon presiden.

“Menariknya, 12,7% pemilih Jokowi menyebutkan Prabowo sebagai cawapres yang paling tepat untuk mendampingi Jokowi. Nama lain yang paling banyak disebutkan berikutnya adalah Anies Rasyid Baswedan (11%), Gatot Nurmantyo (10,2%), AHY (8,1%), JK (7,2%), dan Ahok (6,7%). Sementara itu, Cak Imin dan Mahfud MD dipilih oleh masing-masing 4,7% dan 3,3% pemilih Jokowi,” demikian salah satu kesimpulan hasil survei LIPI ini. Sementara itu posisi cawapres untuk Prabowo teratas diisi oleh Anies (23,1%), Gatot (20%), dan AHY (15,7%).

Temuan lain yang cukup menarik adalah dalam simulasi dua nama (Jokowi vs Prabowo), ditemukan bahwa semakin tua usia pemilih dan semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin besar dukungan terhadap Jokowi.

Sementara itu, semakin tidak puas terhadap kinerja pemerintah semakin cenderung mendukung Prabowo. Namun, hubungan variabel-variabel tersebut dengan pilihan capres lemah.

Tingkat keterpilihan Jokowi di perdesaan dan di kalangan cenderung lebih tinggi daripada di perkotaan. Tingkat keterpilihan Jokowi di kalangan pemilih dengan penghasilan lebih rendah cenderung lebih tinggi daripada di kalangan pemilih dengan penghasilan lebih tinggi. Namun, hubungan antara kedua variabel sangat lemah. Hal yang sama ditemukan dalam hubungan antara penilaian seberapa cocok demokrasi dan pilihan capres.

Lantas apakah Jokowi dan Prabowo dapat memaksimalkan nilai lebih dan meminimalisir kekurangan mereka?

Equityworld Futures

Equityworld