Jakarta -PT Timah (Persero) tengah melirik pengembangan harta harun di Indonesia yaitu tanah jarang atau rare earth. PT Timah melirik potensi tanah jarang di smelter Bangka Belitung tepatnya di Kawasan Industri Tanjung Ular.

“Proyek tanah jarang Babel di Kawasan Industri Tanjung Ular sudah commissioning. Ada potensi yang akan bisa digarap seluas 110 hektar,” ungkap Direktur Utama PT Timah Sukrisno, ketika ditemui di sela-sela acara halal bihalal di Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, Rabu (22/7/3015).

Sukrisno mengaku belum menghitung nilai investasinya. Menurutnya, potensi nilai yang akan didapatkan dari penambangan tanah jarang untuk mengambil unsur-unsur bernilai tinggi seperti thorium, bisa mencapai 10 kali lipat dari nilai tanah jarang sendiri. Unsur-unsur dalam tanah jarang dimanfaatkan industri elektronik.

“Thorium sendiri nilainya bukan hanya 2 lipat, bisa 10 kali lipat dibanding kondisi mentah tanah jarang. Nilai investasi belum dihitung. Kita fokus bagaimana proses perizinan harus lancar,” ujar Sukrisno. Lokasi pabrik pengolahan tanah jarang di Kawasan Industri Tanjung Ular, Sukrisno menilai strategis dekat pelabuhan.

PT Timah melihat potensi tanah jarang dengan kandungan material thorium dapat dikembangkan untuk pembangkit tenaga listrik. “Rare earth itu mengandung 12 elemen salah satunya thorium. Kita simpan dalam bunker, karena ada unsur radioaktif. Pasir monazite yang disimpan sekitar 300.000 ton. Kapasitas kita mengolah 50 kg/hari,” jelas Sukrisno.

sumber : detik.com