Equityworld Futures – Pertengahan Juli 2018 kemarin, penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin dan CEO Freeport McMoran Ricard Adkerson dilakukan.

HoA tersebut menjadi kesepakatan untuk mengambil alih 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI).

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menjelaskan kenapa

Inalum hanya mengakuisisi hingga 51% saham Freeport Indonesia. Kok nggak sekalian 100%?

Besaran tersebut mempertimbangkan kemampuan investasi yang nantinya menjadi

kewajiban Inalum karena memegang setengah saham Freeport Indonesia.

“Sekarang mau investasi rencananya pengembangan bawah tanah US$ 20 miliar,”

kata Bambang di Four Points, Manado, seperti ditulis Jumat (24/8/2018).

Bambang juga menjelaskan kenapa Indonesia melalui Inalum tidak mencaplok pasca kontraknya habis di 2021 mendatang.

Meskipun dalam kontrak tertulis hingga 2021

namun Freeport Indonesia bisa mengajukan perpanjangan.

“Memang kontrak periode pertama habis, tapi mengatakan dia bisa mengajukan perpanjangan

dan pemerintah tanpa alasan yang wajar nggak bisa menunda. Di sini ada dispute, potensi masuk arbitrase,” kata Bambang

Jika masuk ke arbitrase, maka akan terjadi masa tenggang yang kemungkinan menghentikan

kegiatan pertambangan termasuk bawah tanah. Berhentinya operasi tambang bisa menimbulkan masalah baru ke depannya.

“Tambang nggak boleh berhenti, panjangnya tunnelnya hampir 500 km (seperti) Jakarta-Semarang dan sistem penambangannya block caving. Kalau nggak di-maintain ambruk,

nggak bisa diambil ore (biji timah dan emasnya),” ujar Bambang.

Tidak hanya itu, jika akuisisi Freeport Indonesia dilakukan pasca kontraknya habis di 2021

juga tidak serta merta asetnya langsung menjadi milik Indonesia. Aset Freeport Indonesia yang sudah tetap harus dibeli.

“Kalau selesai 2021 nggak otomatis memiliki aset karena tertulis milik perusahaan sampai waktu 180 hari,” tutur Bambang.

Nilai akuisisi 51% saham Freeport Indonesia disepakati sebesar US$ 3,85 miliar atau Rp 53,9 triliun (kurs Rp 14.000). Modal tersebut akan bisa kembali dalam kurun waktu tiga tahun.

“Menurut inalum 2-3 tahun break event,” ujar Bambang.

Equityworld Futures

Equityworld