Intervensi BI Secuil, Apa yang Bikin Rupiah Menguat dari Dolar AS?
Equityworld Futures -Nilai tukar rupiah ikut terkena imbas gejolak pasar keuangan pasca keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa, atau yang dikenal dengan istilah Brexit (Britain Exit).

Namun ini tak berlangsung lama, sebab rupiah langsung menguat cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan intervensi yang dilakukan oleh BI hanya sedikit.
Sisanya adalah optimisme investor terhadap perekonomian dalam negeri.

Saat hasil referendum diumumkan, rupiah bergerak cepat ke level 13.500/US$. Namun tidak lama kemudian menguat hingga level Rp 13.100/US$.

“BI kasih secuil saja rupiah sudah langsung menguat,” tegas Perry, di kantor pusat BI, Jakarta, (28/6/2016) malam.

Intervensi yang dilakukan BI hanya merupakan bukti kehadiran di pasar keuangan untuk menjaga kestabilan nilai tukar, sehingga menjadikan sinyal positif bagi para investor.

“Hanya sedikit sinyal yang diberikan oleh BI,” sebutnya.

Di samping itu, investor melihat ada hal positif dari perekonomian dalam negeri.

Di antaranya terkait dengan selesainya proses pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 dan kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty.

“Tax amnesty sudah hampir selesai dan APBN-P juga kan dipantau oleh investor,” ujar Perry.

Pada sisi lain, beberapa faktor fundamental ekonomi juga masih terjaga.

Seperti inflasi Juni yang diperkirakan di bawah 1% serta surplus pada neraca perdagangan.

“Semua positif, makanya cepat rupiah menguat,” imbuhnya.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adhitiaswara.

Mirza menambahkan, kondisi dalam negeri memberikan pengaruh lebih besar terhadap sentimen dari investor, dibandingkan dengan peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Pengesahan tax amnesty artinya mampu mengurasi potensi risiko dari sisi fiskal.

Pemerintah mematok tambahan penerimaan dari kebijakan tersebut sebesar Rp 165 triliun.
Bila tidak terealisasi maka mendorong defisit anggaran membengkak.

“Situasi yang lebih stabil baik untuk dunia usaha agar bisa membuat perencanaan.

Jadi mereka bisa investasi,” papar Mirza pada kesempatan yang sama.
Sumber : detik.com