Equity World Futures -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana memberikan insentif khusus kepada para pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional agar mendongkrak nilai ekspor.

Insentif yang akan diberikan berupa energy refund yaitu dengan mengganti biaya listrik industri tekstil yang ingin melakukan ekspor.

Pemberian ‘vitamin’ dari pemerintah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas industri tekstil nasional agar bisa bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam.

“Intinya adalah kita dapat memberi rangsangan kepada para pelaku usaha di bidang industri tekstil agar mereka bisa bersaing dengan negara-negara tetangga kita misalnya Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” jelas Menteri Perindustrian, Saleh Husin saat meninjau operasi pasar di Cipete, Jakarta Selatan, Minggu (12/6/2016).

Industri tekstil Vietnam saat ini menjadi salah satu industri yang paling maju di Asia Tenggara. Pemerintah Vietnam telah menjalin kerja sama dengan Uni Eropa dan negara-negara lainnya di Asia Pasifik.

Kerja sama yang dilakukan ialah pembebasan bea ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat (AS), sebaliknya negara tersebut mengenakan tarif sebesar 17% untuk produk tekstil Indonesia sehingga produk lokal kurang dapat bersaing di dunia internasional.

“Dan kita tahu Vietnam saat ini untuk masalah tekstil cukup maju karena mereka kan mempunyai satu kerja sama masyarakat ekonomi Eropa dengan TPP (Trans-Pacific Partnership) sehingga begitu ekspor ke negara negara Eropa dan Amerika kan mereka nol persen, tapi kalau kita kan dikenakan kira kira 17%. Ini lah produk kita kurang bisa bersaing,” ujar Saleh.

Menindaklanjuti hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyurati Menteri Perindustrian untuk meningkatkan kerja sama dengan dunia internasional untuk meningkatkan nilai ekspor produk tekstil Indonesia ke luar negeri.

“Presiden menginginkan kita bekerja sama dengan Eropa atau ke depannya dengan TPP sehingga ke depannya produk kita bisa ke negara-negara tersebut sehingga pasar kita lebih besar,” tutur Saleh.

Pemerintah juga akan memberikan insentif fiskal berupa tax allowance dan tax holiday kepada industri tekstil dalam negeri agar mampu meningkatkan produktivitasnya. Dengan kebijakan ini juga, Saleh mengharapkan nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia dapat bersaing dengan negara lain.

“Di samping itu kan kita juga ada insentif fiskal lainnya misalnya tax holiday, tax allowance itu kan kita berikan. Dengan kita memberikan rangsangan seperti itu kita harapkan industri tekstil kita bisa bersaing dengan negara-negara lain,” tutur Saleh

Saleh menyebutkan bahwa devisa yang dapat dihasilkan dari industri tekstil nasional mencapai US$ 14 miliar per tahun, sedangkan Vietnam masih berada jauh di atas dengan nilai mencapai US$ 23 miliar per tahun.

Untuk meminimalisir ketimpangan tersebut, Kementerian Perindustrian menargetkan sumbangan devisa industri tekstil nasional bisa mencapai US$ 20 miliar per tahun.

“Kita harus kejar kalau bisa sampai US$ 20 miliar per tahun kan lumayan dengan memberikan berbagai insentif,” tutup Saleh.

sumber : detik.com