Jakarta – Berbicara dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka seperti tidak sedang mewawancarai seorang presiden. Tidak ada kesan kaku. Yang ada sangat cair dan mengalir. Meski perasaan kikuk yang muncul tidak bisa dibohongi.

Tim dari detikcom tiba di Istana sekitar pukul 10.30 WIB‎, Senin (8/6/2015). Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, tim terlebih dahulu menunggu di ruang tamu sebelum akhirnya diarahkan ke Kantor Presiden.

Anggota Tim Komunikasi‎ Presiden, Teten Masduki, lebih dulu menemui kami di Kantor Presiden. Sesuai jadwal, seharusnya kami mulai wawancara dengan Jokowi pukul 11.00 WIB.

“Tunggu sebentar yah, beliau lagi rapat dengan Pak Luhut (Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan),” terang Teten menjelaskan alasan keterlambatan.

Lokasi wawancara yang disiapkan ada di Istana Merdeka. Tepatnya di ruangan tengah istana. Sudah tersedia sebuah meja oval panjang yang bisa memuat belasan orang.

Saat itu pintu bagian belakang Istana dibuka lebar-lebar. Kebiasaan yang baru dilakukan selama pemerintahan Jokowi. Cahaya matahari dan udara dari halaman pun menyeruak masuk ke dalam. Menghilangkan suasana dinginnya istana.

Tidak berapa lama menunggu, Jokowi muncul dengan mengenakan batik hijau lengan panjang. Sambil tersenyum, ayah tiga anak itu keluar dari ruang kerjanya dan langsung duduk di kursi paling ujung.

Jokowi ditemani oleh Teten yang duduk di sebelah kirinya. Tumpukan kertas, empat buah pulpen serta beberapa stabilo turut ‘menemani’ Jokowi di depan mejanya.

Melihat jarak yang terlalu renggang, Jokowi meminta agar delapan kru detikcom yang hadir le‎bih mendekat. Malah Jokowi sempat meminta agar ada kursi juga yang berada persis di kiri-kanannya.

“Biasanya sendiri, sekarang ramai,” canda Jokowi merujuk kepada wartawan detikcom yang sehari-hari meliput di Istana.

Diskusi pun dimulai dengan ditemani secangkir teh panas yang disediakan. Berbagai pertanyaan mulai dari yang ringan hingga serius ditanya kepada mantan Gubernur DKI ini. Termasuk soal ngunduh mantu yang beberapa hari lagi bakal digelar di Solo.

“Sudahlah, Bapak ngurus pemerintahan negara saja,” kata Jokowi menirukan perkataannya putranya, Gibran Rakabuming Raka.

Jokowi memang mengaku tidak ikut campur sama sekali soal pernikahan putranya itu. Seluruh urusan tetek bengek memang dikerjakan seluruhnya oleh Gibran yang terbiasa mengurusi pernikahan.

Seluruh kru detikcom, bergantian mewawancarai Jokowi. Pun Jokowi menjawab dengan lugas. Untuk beberapa pertanyaan, Jokowi menggunakan simbol tangan agar bisa mempertegas maksud penjelasannya. Tidak jarang juga dia menjawab sambil merapihkan tumpukan kertas yang ada di depannya.

Kurang dari sejam wawancara dilakukan. Tapi selama itu juga, air di botol mineral tidak dituangkan ke dalam gelas yang ada di sebelah kanannya.

Di akhir‎ wawancara, Jokowi mengaku sebagai pembaca setia detikcom. Berita-berita yang ditayangkan dilahap habis. Yang mengejutkan, komentar-komentar pembaca di berita tersebut juga tidak jarang ikut disimak. Padahal tidak jarang Jokowi justru di-bully dalam setiap komentar.

“Mulai dari beritanya dan komennya. Komennya yang seru. Sampai jam 1 malam saya buka, itu info saja. Jangan mengharapkan saya terpengaruh, saya baca sebagai masukan saja,” kata Jokowi sambil tersenyum.

Ajudan pribadi Jokowi kemudian memberi sinyal bahwa waktu sudah habis. Sebagai penutup, Jokowi diberi oleh-oleh sebuah figura berisi cover majalah detik yang menampilkan dirinya mengenakan jas Hitam dan dasi merah.

“Wah keren ini, terasa optimisnya,” kata Teten.

Jokowi juga diminta untuk membubuhkan tanda tangan pada figura yang sama untuk dibawa sebagai kenang-kenangan ke markas detikcom. Kami berpisah di hadapan patung gagah Jend Sudirman. Setelah berpuas berfoto, Jokowi pun melangkah keluar dari sisi samping istana. Mobil kepresidenan yang sudah sedari tadi menunggu langsung melesat meninggalkan istana.