Jakarta -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah rekening dalam rangka program Simpanan Pelajar (Simpel) baik yang konvensional dan syariah telah mencapai 117.911 rekening.

Angka tersebut adalah 117,9% dari target 2015 sebanyak 100.000 rekening sejak dilakukannya aktivasi program tabungan Simpel/Simpel iB pada 8 September 2015.

“Untuk tahun 2016, kami menargetkan angka tersebut akan terus meningkat sejalan dengan dukungan dari kementerian terkait dan para Gubernur Kepala Daerah,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad saat sosialisasi program Simpel kepada sejumlah Gubernur Kepala Daerah di kantor OJK, Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2015).

Muliaman menjelaskan, program tabungan siswa Simpel/SimpeliB telah diluncurkan secara resmi pada tanggal 14 Juni 2015 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai salah satu bentuk dukungan OJK bersama industri perbankan dalam membangkitkan kembali kampanye budaya menabung bagi pelajar sejak dini.

OJK ingin agar para pelajar sebagai generasi penerus bangsa dapat menjadikan kegiatan menabung bukan hanya sebagai kewajiban melainkan kebutuhan atau bahkan gaya hidup.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti mengatakan, budaya menabung penting dimulai sejak dini agar dapat mendidik anak untuk mampu mengendalikan diri dalam bersikap konsumtif serta belajar untuk dapat membelanjakan uang yang dimiliki secara bijak.

“Pada akhirnya akan mencapai kesejahteraan keuangan (financial well-being),” katanya.

Wanita yang akrab disapa Titu ini menyebutkan, kelompok siswa dari tingkat SD, SMP, dan SMA memiliki potensi yang besar. Jumlah populasi kelompok ini mencapai sekitar 50 juta siswa atau lebih dari 20% dari jumlah penduduk Indonesia.

Jumlah tersebut, sebanyak 78% adalah siswa sekolah-sekolah umum yang berada di bawah pembinaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan 22% merupakan siswa sekolah madrasah dan pondok pesantren di bawah pembinaan Kementerian Agama.

Berdasarkan hasil survei nasional tahun 2013, tingkat inklusi keuangan kelompok siswa baru mencapai 44% sehingga peluang untuk meningkatkan masih sangat besar dan untuk menggarapnya dibutuhkan sebuah model produk keuangan dengan karakteristik dan fitur yang sesuai dengan kebutuhan kelompok pelajar/siswa.

“Budaya menabung ini kita dorong. Kita termasuk terendah di ASEAN, rasio pengguna tabungan kita. Oleh karena itu, ini penting bagi ekonomi, generasi yang baik bagi penerus bangsa,” pungkasnya.